Laila dan Air Mata

Laila
Laila, putri pertama Syarifah yang lahir karena air mata. Tidak ada yang aneh  pada Laila.  Secara fisik ia persis seperti anak-anak yang lain. Bedanya, Laila sudah ditinggal oleh emaknya, Syarifah,  sejak  ia masih belajar merangkak.   Laila pun harus hidup seadanya bersama sang nenek dalam sebuah gubuk reot.

“Mak kemana, nek?”

“Sabarlah. Emakmu akan pulang.”

Sungguh, saban hari Laila selalu bertanya tentang emaknya yang telah pergi merantau sejak lama menjadi TKI di luar negeri. Perasaan ingin selalu bersama emak ingin selalu dirasakan. Ia ingin seperti anak-anak lain,  hidup berdampingan dengan orang tua. Emaknya telah lama meninggalkannya menjadi TKI di sebuah negara raksasa.


“Nek, emak ke mana?”

Dengan sabar nenek tua itu merayu cucunya. “Nenek hari ini masak makanan enak.”  Laila menggeleng.

“Aku rindu Mak, nek.”

“Kita buat bolu pisang saja. Mau?”

“Tidak. Emak ke mana?”

“Emak pergi sebentar. Nanti juga akan pulang.”

                                          ***

Sementara jauh di sana, Syarifah sedang berjuang untuk hidup. Berjuang untuk merdeka. Sejatinya ia belum merdeka. Syarifah hanyalah seorang pembantu dalam keluarga yang sungguh keras perangainya.

Syarifah seperti terkurung dalam sebuah neraka. Ia berjuang sendirian. Berbagai penyiksaan datang silih berganti. Saat Syarifah tidak sengaja memecahkan sebuah gelas kaca, Syarifah harus siap menerima sanksi. Sebab, gaji yang ia terima akan dipotong oleh sang majikan, setiap  kesalahan yang dibuat.

Syarifah juga dilarang keras berkomunikasi. Ia dilarang memiliki telepon genggam. Diam-diam Syarifah menulis sebuah surat singkat yang akan dikirim ke gampongnya, sebab ia sangat merindu pada Laila, putri semata wayangnya. Ia menulis surat singkat:

Assalamu alaikum, Bu, Allah Tuhanku. Muhammad nabiku. Alquran kitabku. Bila aku mati suatu hari nanti, Bu. Bila aku telah tiada. Jika hidupku berakhir di sini, jagalah putriku Laila, Bu. Sebab, ia adalah belahan jiwaku. Jangan biarkan ia menangis, Bu. Doakan selalu untuk keselamatanku.

Syarifah terkejut bukan kepalang, karena majikannya telah mengetahui bahwa Syarifah mengirimkan surat ke Indonesia. Ia  menangis bersujud di kaki majikan. Pun ia sudah meminta maaf dan memohon ampunan. Namun, puntung rokok telah melekat pada kulitnya yang hitam. Puntung rokok yang masih berapi akan disundutkan ke tubuh Syarifah. Masalah belum rampung. Sebab, karena Syarifah keluar rumah tanpa izin majikan, maka daging Syarifah akan disayat hingga terluka.

“Ampun Tuanku.. Ampunkan hamba.” Terdengar suara Syarifah menangis melolong. Bukan ampunan yang ia terima. Malah ia menerima tambahan hukuman.

                                                                         ***

Laila tetap menunggu kepulangan Syarifah, emaknya. Tidak seorang pun wanita yang saat ini dirindukannya kecuali emaknya, Syarifah.

“Nek. Emak lama sekali.”

“Kita membeli es krim.”

“Aku tak mau es krim. Aku rindu emak, nek,” kata Laila sembari menarik-narik dan merengek-rengek di hadapan neneknya. Tiba-tiba suasana hening. Hujan rintik menghujam bumi.

“Kita berdoa saja agar emakmu cepat pulang, Laila.” Namun Laila diam. Ia merajuk.

“Laila tahu? Ada sebuah cerita, bahwa langit akan terbuka jika sedang hujan rintik. Para malaikat akan turun ke Bumi dan mendengar doa-doa manusia. Allah pun akan mengabulkan doa apabila kita berdoa jika sedang turun hujan rintik. Ayo kita berdoa agar emakmu cepat pulang ke gampong kita.”

Laila tersenyum, tatkala mereka berdoa agar  emaknya pulang ke gampongnya. Hidup bersama dalam gembira.

                                                ***

Laila sedang duduk di teras rumahnya. Ia telah mendapat kabar bahwa  emaknya akan pulang hari ini. Tiba-tiba sebuah ambulans meraung-raung merapat ke gubuk  reotnya. Tiba-tiba suasana ramai. Beberapa kamera siap mengambil gambar, maka terlihat jelas jasad seorang wanita dikeluarkan dari pintu mobil ambulans. Saat kemudian terdengar tangisan air mata rindu pada Syarifah. Nenek Laila yang melolong.

Syarifah telah pulang dalam keharuan. Sebab, tubuhnya penuh luka sobekan, bernanah, dan bekas sundutan rokok. Kini bibir Syarifah tersenyum menghadap Mahakuasa. Seperti isi suratnya yang tak kunjung sampai ke Indonesia, “Allah Tuhanku. Muhammad nabiku. Alquran kitabku. Bila aku mati suatu hari nanti, Bu. Bila aku telah tiada. Jika hidupku berakhir di sini, . jagalah putriku,  Laila.”

Source : Serambinews.com

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan Memberi komentar,saran dan kritik untuk kemajuan di blog ini di kolom komentar bawah ini :