Tampilkan postingan dengan label Karya-Rinal Sahputra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya-Rinal Sahputra. Tampilkan semua postingan

Merenda Jasad

MEREKA berlarian tanpa arah yang jelas. Caci maki dan sumpah serapah saling tumpang tindih ketika lorong-lorong sempit itu tidak mampu menampung langkah-langkah mereka. Menyeruak gelisah oleh getar ketakutan. Tangis yang tadinya tertahan, tumpah dalam jeritan dan kehisterisan. Gaung kepedihan dan luka baru saja dipantulkan oleh langit pagi. Ada yang terjatuh, terinjak-injak, bahkan terseret-seret di sepanjang lorong-lorong sempit yang dengan panik mereka pilih.
Ketakutan membuat mereka sesaat lupa akan harta, kekasih, maupun keluarga. Yang terpikirkan hanyalah setapak langkah ke depan. Jangan sampai terkejar oleh gulungan ombak yang tiba-tiba mengunjungi mereka, menjadi tamu tak diundang. Kembali sumpah serapah bergantian dengan jerit tangis dan gema takbir diterbangkan angin pada pucuk-pucuk rumput dan diteruskan pada dahan-dahan pohon yang menyampaikannya pada awan-awan yang segera saja berganti baju dengan seragam duka cita.

Sekuat apa pun mereka berlari, sekeras apa pun sumpah serapah, setakut apa pun hati mereka dengan kematian, Izrail tetap berdiri di ujung jalan setapak dengan raut muka berbeda. Sebagian melihatnya tersenyum, bahkan memuliakan mereka lewat sapaan yang menyejukkan, sebelum ombak-ombak yang sudah menjadi kumpulan air berwarna hitam kecoklatan membenamkan jasad-jasad mereka dan menyeret tubuh-tubuh kaku itu pada tempat perisitirahatan terakhir.

 Tidak sedikit yang dipelototin oleh Izrail dengan mata memerah dan ruh mereka dicengkeram dengan kuat hingga menggelepar bagaikan domba yang disayat dan dikuliti. Satu per satu dari mereka dijemput oleh kematian. Tidak ada yang menduga sebelumnya kalau ombak yang selama ini telah mereka akrabi sebagai kekasih di waktu sepi atau sebagai teman pada saat hari-hari bahagia maupun duka, pagi ini menjadi perantara sebelum memasuki alam baru.

“Kenapa mereka sangat takut dengan kematian?”

“Mana kutahu! Masing-masing kita kan punya kehidupan.”

“Tapi, segala sesuatu pasti ada sebabnya. Bodoh kalau ada yang berpikir bahwa kejadian di dunia hanyalah suatu kebetulan atau sebuah akal-akalan Tuhan karena kurang kerjaan.”

“Memangnya kenapa? Terserah mereka mau berpikir seperti apa. Toh, mereka lebih mulia dari kita. Ada akal yang diberikan Tuhan untuk mengimbangi nafsu mereka. Sedangkan kita hanya bagian dari dunia yang tidak begitu penting.”

“Siapa bilang kita tidak penting? Bahkan seekor nyamuk pun punya nilai bagi kehidupan ini. Tapi, sungguh, baru kali ini kulihat ombak setinggi itu dan coba kauperhatikan wajah-wajah ombak itu. Begitu berbeda dengan keramahan yang selama ini menyapa ketika sayap-sayap kita meyentuh permukaannya. Sepertinya ada amarah yang sudah dipendam bertahun-tahun.”

“Eh, jangan salah ya. Kamu lebih bodoh untuk hal menilai karakter. Ombak-ombak itu bukannya marah, tapi sedang menahan kesedihan. Coba kau lihat bocah malang yang terapung itu atau nenek yang sedang terjepit di bawah gundukan sampah dan seng atau perempuan hamil di sebelah sana yang sedang timbul tenggelam dengan tangan berusaha menggapai-gapai.”

“Terserahmulah.” Hening sesaat menyapa.

“Bukan maksudku menjelek-jelekkan mereka, tapi apa yang mereka kerjakan selama ini sudah sangat keterlaluan. Hampir setiap hari mayat ditemukan bergeletak di mana-mana. Kau ingat ketika kita hinggap sejenak di pepohonan dekat masjid besar di tengah kota, sangat sedikit dari mereka yang mau rehat sejenak dari dagangan yang mereka gelar ketika panggilan Tuhan berkumandang. Coba sesekali kau terbang malam hari menyusuri pesisir pantai, aku yakin kau akan muak dengan kemungkaran yang mereka tebar.”

“Itu kan menurutmu. Bagiku, mereka tidak seburuk itu. Meski kuakui tingkat pembunuhan di tempat ini sangat mengerikan, masih banyak kok yang masih taat dengan ajaran-Nya. Mereka yang telah mengorbankan segalanya untuk mengingatkan saudara-saudaranya yang lain.”

‘Awas!” Meski sudah berteriak sekuat mungkin, tetap terlambat. Burung bersayap putih itu hanya mampu melihat tubuh temannya menabrak pohon asam jawa yang tumbuh berjejer di sepanjang jalan kota. Tubuh itu terus meluncur ke bawah dan menghilang dalam kepekatan ombak yang warnanya semakin hitam. Termangu sesaat hingga kemudian kawanan camar memanggilnya. Burung bersayap putih itu menatap hampa pada gulungan ombak, mengucapkan salam terakhir untuk temannya sebelum kemudian terbang bersama kawanan camar menuju arah matahari tenggelam.

                      ***
Laju ombak mulai melambat. Jasad-jasad kaku berkubangan lumpur, sebagian terimpit dahan kayu dan sebagian tergeletak di bawah bangunan runtuh. Ada kelelahan yang terlukis pada wajah-wajah ombak. Sambil terus mencoba menemukan permukaan tanah yang lebih rendah, serempak mereka berzikir. Angin yang kemudian menerbangkannya ke seantero bumi. Binatang, tumbuhan, hingga makhluk-makhluk yang tak terlihat sejenak memejamkan mata oleh getar kesedihan yang tiba-tiba mengguncang mereka.

    “Ibu! ibu! Allah, ke mana ibu?” di tengah hiruk pikuk, sedu-sedan, dan ratapan, gadis tanggung itu berusaha menguak kerumunan itu.

    “Kak, lihat nenek saya enggak?” bocah lelaki dengan tubuh berbalut lumpur tiba-tiba saja memegang tangannya dan kemudian menangis. Gadis tanggung itu pun ikut menangis. Keduanya berpelukan. Hanya sejenak, sebelum kemudian ombak-ombak itu kembali dan menyeret keduanya bersama ratusan ribu jasad lain.

Air semakin meninggi. Pekik dan jerit tidak terdengar lagi. Hanya bunyi deru ombak yang mengiringi kepergian satu per satu ruh orang-orang di bawah sana.

Sang Ketua

SEMUA pegawai di kantor tahu bahwa aku sangat menginginkan jabatan ketua. Selama proses seleksi calon, aku pun  sangat yakin kalau nanti akan terpilih.  Karena dari tiga calon yang tersisa, hanya aku satu-satunya kandidat dengan gelar doktor. Dua lainnya, Ahmad dan Marfu’ah —memang lebih tua dua atau tiga tahun dan pengalaman kerja mereka sedikit lebih banyak dibandingkan aku, tapi, mereka merangkak dengan ijazah SMA sebelum kemudian menyelesaikan program sarjana dengan biaya kantor.

Dari prestasi kerja, aku juga jauh lebih baik.  Kemampuan berbahasa Inggrisku pun jauh di atas rata-rata. Hanya saja, setidaknya aku harus mewaspadai Marfu’ah, sebagai satu-satunya calon yang mewakili perempuan,. Sebab isu-isu gender sering menjadi pertimbangan. Apalagi sistem pemilihan yang mengandalkan pada pemungutan suara dari seluruh pegawai sebelum kemudian diputuskan oleh Komite, keberadaan Marfu’ah jauh lebih mengancam dibandingkan Ahmad karena hampir dua pertiga pegawai kantor adalah perempuan.
Seminggu sebelum pemilihan, kami diberikan kesempatan berkampanye hingga batas waktu  sehari sebelum hari H. Juga diadakan debat kandidat yang ditonton oleh seluruh pegawai. Di antara ketiga calon, tim suksesku yang paling ramai dengan latar belakang kemampuan berorganisasi yang baik. Aku pun memasang  teori akar rumput, untuk menarik simpati  massan. Tidak sedikit yang kusogok dengan uang atau kujanjikan jabatan-jabatan penting jika aku nantinya terpilih sebagai ketua.

Tim sukses dari kubu Ahmad dan Marfu’ah, terlihat tidak melakukan apa-apa. Namun, dari sikap yang ditunjukkan Marfu’ah, perempuan itu kelihatannya sangat yakin jika dia akan terpilih. Dan aku sudah bertekad bahwa perempuan itu harus membayar untuk semua sikap pongahnya.

Tepat pada hari debat, aku pun tak henti mengumbar senyum. Ahmad datang terlambat lebih 30 menit.  Orang-orang yang kubayar berhasil membocorkan ban mobilnya dan itu cukup untuk menunjukkan kepada seluruh pegawai dan Komite bahwa lelaki itu tidak kompeten sebagai ketua. Dan untuk Marfu’ah, aku sudah mempersiapkan satu  kejutan. Semua file yang berisi data presentasi dia lenyap tak berbekas. Aku benar-benar puas saat melihat wajah Marfu’ah yang sepucat kafan dan wajah-wajah melongo para pegawai dan Komite saat mendengar paparan yang tidak jelas dan disampaikan dengan terbata-bata.

Hanya aku, satu-satunya kandidat yang aplus meriah dari seluruh pegawai. Pesta besar pun digelar. Aku tidak lagi peduli, berapa banyak uang yang sudah habis untuk bisa menang. Lagi pula, jika nanti, mengembalikan  semua uang kerugian bukan suatu yang sulit, uang akan lebih banyak kudapatkan.

Aku sudah sangat yakin akan terpilih. Maka semalam suntuk menjelang besok pemilihan, aku tak bisa tidur sambil membayangkan eforia kemenangan nanti. Pukul setengah delapan, aku sudah berada di kantor dengan menebar senyum sumringah. Semua kusapa, dan petugas kebersihan dan kuberikan tips lebih untuk satpam dan tukang parkir. Aku menunggu-nunggu wajah lesu ahmad dan Marfu’ah. Namun, keduanya datang dengan ekspresi biasa saja. Bahkan membalas senyumku dengan wajar. Kupikir, mereka sudah sangat siap dengan kekalahan.

Seluruh pegawai sudah berkumpul di aula utama untuk melakukan pemilihan ketua. Di jadwal yang diedarkan oleh panitia pelaksana, seharusnya acara pemilihan dimulai dari pukul delapan pagi hingga pukul dua belas siang. Dan semuanya mendadak gelisah. Meski jam di dinding aula sudah semakin dekat ke pukul sepuluh, pemilihan belum juga dimulai. Malahan, tidak ada pemberitahuan apa pun dari pihak panitia. Komite juga belum datang. Berulang kali kucoba menghubungi panitia pelaksana, hasilnya tetap nihil.

Kegelisahan beberapa ratus orang ketika bergabung dalam satu ruang akan menghasilkan kebisingan dan rasa mual. Dan itu yang kurasakan saat ini. Meskipun dilengkapi pendingin ruangan, keringatku bercucurab dari dahi dan pundak. Aku mulai merasakan adanya sesuatu yang tidak beres. Bahkan para intel  yang kusebar tak mendapatkan  informasi apa-apa tentang keterlambatan panitia.

Jam menunjukkan  pukul setengah dua belas. Terlihat selebaran yang ditandatangani oleh komite dan dilengkapi segel resmi, berisi. “Pemilihan ketua baru dibatalkan dan tampuk pimpinan selama setahun ke depan masih akan tetap dijabat oleh ketua sebelumnya. Terima kasih!”

Keranda Haji Banta

TIDAK ada yang lebih ditakuti oleh Haji Banta selain keranda. Bahkan status haji yang baru setahun disandangnya tak juga membuat lelaki paruh baya itu berdamai dengan rasa takutnya. Padahal, rumah Haji Banta tepat di seberang meunasah dan dari teras depan rumahnya, keranda kebanggaan kampung kami terpampang jelas.

Dulu, saat Haji Banta belum berstatus haji; ketakutan lelaki itu terhadap keranda sempat menjadi desas-desus menghebohkan. Tidak sedikit para pemuda di kampung yang menggerutu karena Haji Banta selalu menolak jika diminta ikut membantu mengangkat keranda dari rumah duka ke kuburan desa. Aku yang saat itu berdiri di samping Teungku Imum hanya geleng-geleng kepala sambil menahan tawa ketika melihat wajah Haji Banta yang sepucat kafan. Saat itu, Teungku Imum meminta langsung kepada Haji Banta untuk ikut membantu. Seolah dikejar hantu, Haji Banta bergegas pulang dengan alasan sakit perut.
Dan setelah menjadi haji, kondisinya jelas berubah. Di kampung kami, menjadi haji berarti lebih dihormati. Bahkan, Teungku Imum saja belum naik haji. Pada setiap acara hajatan orang meninggal, orang-orang tidak lagi meminta Haji Banta untuk membantu membawa keranda. Malahan, Haji Banta lebih sering menggantikan posisi Teungku Imum sebagai imam shalat jenazah atau pun sebagai perpanjangan bibir syahibul bait untuk menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh khalayak atas dosa-dosa hablumminannas sekaligus menyinggung masalah utang-piutang si mayit semasa hidup.

Namun, Haji Banta akan menolak secara halus jika diminta untuk memimpin prosesi diturunkannya jenazah ke liang lahat. Pada setiap pemakaman, Haji Banta selalu terlihat berdiri paling sudut dan baru akan mendekat ketika jenazah sudah selesai dikuburkan.

Seolah sudah memaklumi keunikan sifat Haji Banta, orang-orang tidak lagi bergunjing tentang ketakutan Haji Banta terhadap keranda. Hingga pada suatu subuh, seluruh kampung geger saat salah seorang warga yang hendak shalat di meunasah menemukan Haji Banta dalam keadaan pingsan di teras depan rumahnya.

Setelah dioleskan minyak kayu putih dan mukanya dibasuh pelan-pelan dengan air, Haji Banta mulai siuman. Meskipun demikian, beberapa orang tetap diutus untuk memanggil mantri desa.

Kerumunan semakin banyak. Silih berganti para warga bertanya tentang apa yang sudah terjadi. Haji Banta hanya diam. Istrinya juga tidak tahu apa-apa. Berbaring dengan setengah bersandar, pandangan Haji Banta lurus ke depan dan sesekali, ekspresi wajahnya nampak kesakitan dan ketakutan. Melihat kondisi suaminya, istri Haji Banta menangis sesenggukan sambil terus memijit kaki suaminya. Aku bergegas bergabung dengan kerumunan.

Kulihat, Teungku Imum sedang merajah segelas air putih dan menyodorkannya kepada Haji Banta. Dengan patuh, Haji Banta meminumnya sampai habis. Perlahan, air mukanya berubah. Aku seketika merinding.

Agak sempoyongan, Haji Banta perlahan mencoba bangkit. Para warga kembali gaduh. Sedangkan di luar sana, ayam jantan tak henti berkokok. Angin menderu-deru dari arah persawahan desa dan langit mendadak menghitam. Hawa dingin yang berhembus memaksa orang-orang untuk lebih merapatkan lilitan sarungnya.

Haji Banta seolah tidak peduli. Tertatih-tatih sambil dipegangi istrinya, lelaki itu terus berjalan ke arah meunasah. “Keureunda lon ka trok! Keureunda lon…” Suara Haji Banta semakin melemah seiring tubuh tegapnya yang menggelosor dalam sanggahan istrinya. Bahu perempuan itu berguncang hebat. Air matanya seolah tak henti mengalir. Kami yang awalnya hanya berdiri terpaku kembali gaduh saat menyadari bahwa lelaki itu telah pergi

Perempuan itu

API tungku itu, berulang kali ditiupnya. Hanya kepulan asap yang menguar. Tubuh renta terdorong ke depan ketika otot-otot dadanya berkontraksi kuat melawan kepulan asap yang mencoba terobosi tenggorokan dan paru-parunya.

“Bidah! Sudah siap kaukasih makan bebek-bebek tu? Kalau sudah, lekaslah kau kemari.” Dari balik pintu kayu di belakang si perempuan, menyembul wajah bulat dengan tutul-tutul hitam bekas jerawat. Kelelahan tergurat pada wajah keduanya.
“Coba kau yang tiup tungku ini! Aku sudah mencobanya berkali-kali, tetap saja apinya tak menyala. Entah karena kayunya yang masih basah atau tenagaku yang sudah melemah.”
Perempuan tua itu bergeser.

Berjongkok di samping Maknya, Bidah menghembuskan napas sekuat tenaga. Asap kian banyak mengepul. Titik-titik keringat membanjiri kening Bidah. Sambil sesekali menyibak kerudungnya ke belakang, Bidah berkonsentrasi penuh pada tumpukan kayu itu.

Sayup-sayup, azan maghrib bergema.

“Sudahlah. Memang kayunya masih basah. Kau ada shalat sekarang?” Perempuan itu menatap Bidah dengan mata basah.Bidah menggeleng.

“Coba kau ke tempat Makcik Asma. Jangan lupa bawa gayung kecil yang biasa Mak tarok di belakang pintu depan. Minta pinjam dengan Makcik Asma minyak tanahnya segayung tu saja. Mak shalat dulu.”

Perempuan itu pelan bangkit dari dudukannya; berupa batok kelapa yang dibalik, sambil berpegangan pada dinding kayu dapur. Setengah menyeret kakinya, perempuan itu menuju sumur, sekitar 4 meter dari pintu belakang, di sebelah kanan kandang bebek. Tak lama berselang, bunyi kerekan katrol membaur bersama semilir angin yang berhembus dari ladang-ladang di perbukitan sebelah timur desa.

Baru saja perempuan itu mengucapkan salam sesudah tahyat akhir, Bidah nampak terengah-engah sambil menenteng kantong plastik hitam dan sebuah gayung kecil.

“Kau tarok saja di situ. Nanti biar Mak yang masak airnya. Lekas kau mandi sekarang, mumpung masih belum terlalu malam. Bisa kena reumatik kau nanti. Itu apa?” Meskipun matanya sudah mulai kabur, sekilas dia bisa menangkap bayangan kantong plastik di tangan Bidah.

“‘Ak ‘ek…” Bidah menggerak-gerakkan tangannya seolah hendak menyuap makanan ke mulut Mak.

“Dikasih Makcik Asma?”

Bidah mengangguk. Wajah lelahnya berbinar.

“Ikan asin tadi tak usah kaugoreng lagi. Simpan saja untuk besok. Ada kaubilang terima kasih dengan Makcik Asma?”

Remaja itu kembali mengangguk dengan bersemangat. Mak mulai membuka lembaran lusuh alquran tua miliknya. Bidah beringsut menuju ke sumur. Bunyi timba yang terantuk dengan dinding sumur dan kecepuk air saling memilin dalam gelap bersama suara lirih Mak. Hanya isak tertahan yang sesekali memantulkan nada sumbang dan merusak harmonisasi alam. Pendar cahaya dari lampu teplok merekam jelas setiap tetes air mata di wajah renta Mak.

Kecamuk dalam jiwanya seolah membadai. Tentang Bidah; anak gadisnya yang bisu, sisa beras, suami,... Entah kapan lelaki itu kembali. Dan tangisnya pun menderas.