Kembali ke Asal

Pada suatu hari, ada seorang tamu yang datang ke rumah Pak Zulkarnaen. Namanya Tgk Sulaiman. Sang tamu orang yang sekampung dengannya. Selain  sebagai petani sawah, di kampungnya Tgk Sulaiman juga merangkap sebagai guru mengaji yang setiap malam mengajar anak-anak Alquran dan hukum agama. Itu sebabnya, selama ini dia sangat jarang bepergian ke kota.

Kedatangan Tgk Sulaiman ke kota  kali ini  untuk mengantar biaya hidup buat  anaknya yang sedang kuliah di sebuah universitas jurusan agama Islam.  Lazimnya, kalau beliau ke Banda menginap satu malam di rumah  anaknya,  namun  kali ini beliau berniat  bermalam di rumah rekan sekampungnya yang kini sudah berhasil dan menjadi pegawai di sebuah instansi pemerintah.

Berpenampilan apa adanya, Tgk Sulaiman  tetap memakai sarung, baju koko, dengan peci hitam khas Aceh bertengger di atas kepalanya. Sesudah mencari-cari di beberapa rumah di kawasan perumahan, akhirnya sampailah ke pintu pagar rumah yang dituju. “Assalamu’alaikum!” kata Tgk Sulaiman  berulang-ulang. Kira-kita 15 menit kemudian, barulah terlihat seorang perempuan setengah baya dengan rambut kusut masai. Ia mendekati pintu pagar yang terbuat dari besi.

“Waalaikumsalam!” jawab perempuan itu sambil menggerutu. “Ada apa dan cari siapa, Pak?” tanya perempuan itu yang masih  berdiri di belakang pintu pagar. “Peue beutoi nyoe rumoh Zulkarnaen?”

“Betul Pak, bapak dari mana?”

“Lon tuan rakan saboh gampong ngon Zulkarnaen. Peuna gobnyan di rumoh atawa jeuet lon tuan tamong?” kata Tgk Sulaiman pula.

“Ada, tapi lagi tidur, baiknya nanti saja bapak ke sini lagi. Beliau baru pulang kantor terus tidur!” ujar perempuan itu

lagi. “Wah, hana mungken le, sabab eunteuk seupot oh lheuh meugreb lonjak bak teuminal malamnyoe cit lon tuan woe u gampong!” kata Tgk Sulaiman yang sudah membatalkan untuk menginap di situ. Pintu pagar tetap belum dibuka. Saat mereka berbicara di sana, Zulkarnaen  datang ke situ sambil berkata. “Ia, sudah, buka saja pintunya, mam,” kata teman Tgk Sulaiman itu pada sang istri.

Begitu pintu pagar dibuka, Sulaiman masuk ke pekarangan rumah besar itu. Sambil berjalan menuju rumah, Tgk Sulaiman berujar: “Wah, ka kaya neuh Zul, rumoh rayeuek, bak geunireng rumoh na moto sedan, buet teuh get bak kantoe peumeurintah!”

“Ya, biasalah teungku. Ini tidak seberapa bila dibandingkan dengan orang lain di kota ini!” jawab Zulkarnaen yang tetap berbahasa Indonesia dengan logat Aceh yang kental.

“Peue hana jeuet le  meututoe ngon basa Aceh Zul?” tanya Teungku Sulaiman heran. “Jeuet teungku hai, tapi kareuna sudah kayem peugah haba deungan bahasa Indonesia di rumah kami, rasanya tidak enak lagi bertutur dengan bahasa Aceh”.  Bahasa Zulkarnaen kini bercampur aduk antara Aceh-Indonesia.  Sesaat kemudian istri Zulkarnaen keluar sambil membawa  minuman. Kali ini terlihat sudah berdandan, namun tak ada tutup kepalanya hingga rambut yang dicat merah itu kelihatan. “Silakan diminum, teungku,” kata istri Zulkarnaen.

“Get, teurimong geunaseh,” jawab Tgk Sulaiman. Oh ya, Teungku, ini- ibu anak-anak saya, orang Aceh juga, kami sudah terbiasa dalam rumah berbahasa Indonesia. Jadi, bahasa Aceh tidak kami pakai lagi. “Pat aneuek-aneuek neuh?” tanya Tgk Sulaiman pula.

“Kuliah di Bandung. Kami mempunyai anak tiga orang, yang tertua perempuan sekarang kuliah di Bandung, yang dua lagi masih kecil-kecil, nomor dua lelaki sudah SMP kelas tiga, yang kecil perempuan lagi masih SD, kelas 5. Mereka sekarang lagi les bahasa Inggris dan komputer!” ujar Zulkarnaen bangga. Mendengar itu, Tgk Sulaiman mangut mangut saja sambil kepalanya terangguk-angguk.

“Pakriban deungon beuet, peuna neujok bak beuet aneuek droeneueh

nyan?” tanya Teungku Sulaiman. “Oh ada, seminggu sekali kami undang guru ngaji ke rumah ini untuk mengajar anak-anak, tapi sudah lima bulan ini tidak lagi, sebab anak-anak sangat padat dengan pelajaran sekolahnya juga les tadi!” kata Zulkarnaen pula.

“Ya, teungku, yang penting anak-anak mengetahui sendi-sendi agama Islam, agar sewaktu mereka besar nanti mengetahui bahwa mereka adalah orang muslim,” ujar istri Zulkarnaen pula menimpali.

“Zaman sekarang ini anak-anak yang tidak bisa berbahasa Inggris dan ilmu komputer nanti salah kita orang tua, sebab akan kalah bersaing dengan anak-anak lain!” kata Zulkarnaen  yang benar-benar sudah menerapkan ajaran sekuler di dalam rumah mereka.

Mendengar itu Teungku Sulaiman geleng-geleng kepala. Tidak lama kemudian sebuah sepeda motor  masuk ke pekarangan rumah besar itu. Dua oramg anak Zulkarnaen yang baru pulang les masuk ke dalam rumah sambil memberi salam dengan ucapan, “Mikum ayah mama!”

Kedua tangan orangtuanya disalami, juga  tidak ketinggalan dengan Teungku Sulaiman.

Ayah dengan ibu anak-anak itu menjawab salam itu dengan “Salam!” Tetapi Teungku Sulaiman tidak menjawab salam itu, sebab tidak benar lafaznya. “Anak-anak duduk dulu, ayah perkenalkan kawan ayah waktu di kampung dulu,” kata Zulkarnaen kepada kedua anaknya yang sudah duduk di sampingnya. Kedua anak-anak itu melihat  Teungku Sulaiman mulai dari ujung kaki hingga  ke ujung rambut. Seakan-akan  ada yang aneh bagi mereka, sebab selama ini tamu-tamu ayahnya bercelana panjang juga cukup berwibawa. Gagah-gagah lagi. Kok ini kayak pengemis yang sering mereka lihat?

“Teungku, inilah anak-anakku, yang ini namanya Roland Cahyadi,

sudah SMP kelas tiga, sedangkan si kecil ini Kristiani Candradewi,

masih kelas lima SD,” katanya sambil menepuk-nepuk bahu anaknya itu.

Kedua anak itu terlihat gelisah, sebab banyak membawa PR dari sekolah. Teungku Sulaiman melihat jam yang tergantung di dinding rumah  hampir setengah enam, lalu Teungku Sulaiman berkata kepada keluarga itu. “Ulon keuneuk tanyong bak gata aneuek meutuwah bandua teuh. Peu jeuet gata beuet Quran, meunan cit jeuet

gata apai ayat-ayat seumayang?” Mendengar pertanyaan itu Zulkarnaen bersama istrinya sangat kaget dan pucat pasi, sebab pertanyaan Tgk itu di luar pikiran mereka. “Tidak ustad, saya tidak pandai mengaji juga tidak pernah sembahyang, sebab ayah dengan ibu tidak pernah mengerjakannya. Itulah sebabnya nilai agama Islam kami selalu merah!” kata si sulung Roland dengan jujur. “Astagfirullah. Dengar ya anak-anak, orang Islam itu harus belajar agamanya, wajib bersembahyang, apalagi kamu sudah remaja. Wajib atasmu sembahyang lima waktu sehari semalam.  Saya tidak menyalahkan kalian berdua, yang salah adalah kedua orangtuamu.”

Kemudian Teungku Sulaiman berkata pula kepada kedua suami-istri itu. “Droneueh Zul, meunan cit binoe neuh, droneueh Aceh saboh gampong ngon lon tuan. Ilee watee di gampong droneueh nyang paleng jumot seumayang, taeh bak meulasah watee suboh droneueh ka neubeudoh neupugoe ulon laju taseumayang suboh meusajan-sajan, pakon jinoe lagee nyoe bagoe? Ulan kon keuneuk kuliah droneueh, droneueh ureueng tepeulajar, ulon ureueng gampong, teuma lamhai seumayang nyoe na keuwajeban ulon peuingat gata!” kata Teungku Sulaiman sambil menetes air mata, sebab ia sangat tersentuh hati ketika  mendengar kejujuran kedua bocah  itu. Kedua suami istri ini seperti terkena hipnotis saja. Tidak ada ucapan yang keluar dari mulut mereka. Air mata terlihat mulai mengalir di kedua pipi suami-istri itu.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan Memberi komentar,saran dan kritik untuk kemajuan di blog ini di kolom komentar bawah ini :