Tampilkan postingan dengan label Karya-Hendra Kasmi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya-Hendra Kasmi. Tampilkan semua postingan

Hafizd Kecil yang Malang

SUARA itu kembali datang bersamaan desah angin malam yang menyusup, dengan pongah mengobrak-abrik bunga mimpiku yang hampir sempurna kurangkai. Aku tersentak bangun seraya mempertajam pendengaran. Ah, itu pasti suara hafizd kecil melantunkan firman di meunasah. Selarut ini? Ah, bukankah bertadarus di bulan suci  suatu yang disukai Tuhan.

Andai saja hafizd kecil itu tak menggunakan pengeras suara, maka tak merusak kenyamanan orang yang lelap menanti sahur.  Atau bila membacanya dengan suara indah alami, mengalun serak bak  riak air sungai,  akan menyejukkan batin dan  meluruhkan penat hingga tak membuat gejolak  amarah.
Hafizd, memang rajin bertadarus. Kata teungku imum, ia dapat menyelesaikan bacaan sepuluh juzz dalam semalam dengan penuh semangat. Padahal seharian penuh, ia meramaikan terminal angkot dengan seragam kondektur. Hafizd terpaksa berhenti sekolah dan harus mempertahan hidup sejak kedua orangtuanya hilang tersapuh air pasang. Kini ia bersama neneknya berteduh  di gubuk reot ujung kampung.

Aku betul-betul malu juga iri. Karena aku yang hanya separuh hari di sekolah, belum mengkhatam satu kali pun. Pernah Hafizd  menyapaku di meunasah,  menanyakan, “sudah berapa kali mengkhatam Alquran”? Aku pun hanya senyum sambil menepuk pundaknya dan menyarankan agar ia terus  menghafak siapa tahu nanti akan jadi qari cilik tersohor sekaliber Rajif Fandi.

Hafidz satu-satu bocah yang terlihat bertadarus di meunasah. Yang lainnya orangtua bahkan ada yang renta. Sedang para pemuda kampong, mereka lebih beta bertadarus di warung kopi.

Malam terus merangkak, alunan Hafizd kecil melengking terputus-putus di gerai angin. Kutarik selimut, terasa hawa pegunungan langsung menyergap, merasuki tulang sum-sum hingga sekujur tubuhku menggigil. Aku bertekad akan menjumpainya malam ini di meunasah.

 Sepanjang koridor jalan senyap yang kutelusuri, hatiku dilumuri perasaan tidak menyenangkan. Tiba-tiba suara itu terhenti sekejap tepat tatkala angin menghalau dedaun meranti. Di langit, mendung mulai menyapu gemerlap bintang hingga langit kian pekat. Hatiku mulai gusar seiring rintik-rintik gerimis yang mengigil tubuhku dalam balutan jaket. Bocah itu, kukenal suaranya, biasanya lantunannya  ada irama tersendiri tatkala di ambang senyap, perlahan dan kian mengecil. Lalu kenapa lantunan itu putus sekejap di saat begitu semangatnya ia bertadarus. Aih, pasti ada sesuatu yang tak beres di meunasah itu.

Kupercepat langkah melawan lautan gerimis yang kemudian berubah menjadi guyur hujan. Dalam remang lampu pijar, mataku menangkap sesosok bayangan termangu di pintu meunasah, tangannya yang bertumpu di atas lutut menopang jidat. Dalam pandangan buram, terlihat bajunya kuyup diterpa gerimis. Kudekati sosok kecil itu dengan hati-hati untuk memastikan apa yang terjadi dengannya.

“Hafizd, kau menangis?”
Hafizd menatapku. Pipinya lebam. Bercak airmatanya telah menodai lekuk pipinya. Barangkali ia agak tersinggung dengan ucapanku. “Maaf, kutahu pekerja kasar bukanlah anak cengeng. Maksudku apa kau sakit hati atas perlakuan ini”tambahku.

Hafizd masih bungkam. Mungkin ia sedang tak ingin berbicara, kugengam tangannya lalu kuajak pulang. Sungguh, orang-orang kampung ini sangat keterlaluan. Sudah tak meramaikan masjid, malah merasa terganggu  dengan lantunan ayat-ayat tuhan itu.  Sesampainya di perempatan jalan, kami akan menjumpai sebuah warung kopi yang tetap buka sampai sahur menjelang. Hafizd kemudian berjalan agak terburu-buru. Aku kian penasaran. Beberapa pemuda  tergelak bermain batu, sebagian lagi kulihat menatap Hafizd yang sedang berlari ketakutan dengan tersenyum sinis.

Mendung di Wajah Meutia

SOSOK perempuan dalam remang itu telah membuat ruang ini  mencekam. Seorang siswa memekik, sebagian lainnya menggigit jilbab dalam wajah pucat. Kututup rapat pintu dan semua jendela. Aku ingin peristiwa ini tak ada lagi siswa mengetahuinya, meskipun aku tetap resah. Aku betul-betul lemah dan khawatir jangan-jangan ada yang mengintip dari balik cela jendela.

Tiba-tiba bibir perempuan itu menggeletuk geram; “Jika aku tahu orangnya, akan kulumat dia.” Suara itu membahana ke seluruh ruang. Meski peristiwa itu sudah berselang lama, emosi perempuan itu meluap sudah. Bara dendam yang terungkit kembali, entah siapa yang memantiknya.
Kulihat butiran bening meleleh menelusur lekuk parasnya yang berkerut. Suasana yang mulai mereda dalam pasrah dan ungkapan dari bibirnya membuat siswa-siswa lainnya terharu.

“Ya sudahlah. Semua itu milik Tuhan. Kita semua hanya bisa pasrah.” Desah itu terdengar serak dan perempuan itu terduduk lemas di sebuah anak tangga. Selendang kusut itu menyapu noda-noda gundah di wajahnya.”Tapi kalau Abah masih ada tentu beliau bisa membiayai sekolah si manyak. Dariku apalagi yang bisa diharapkan, menyadap getah itu hanya cukup untuk makan,” gumannya. Semua di ruangan itu menjadi hanyut dan terlihat tetes-tetes bening dari kelopak mata kami.

Perempuan itu  menjauh perlahan. Pandangan yang samar mulai menjadi warna pekat. Suasana sunyi pun berubah membahana riuh setelah kupaksakan mereka bertepuk tangan.

Meutia berdiri lalu menuju ke depan. Sorot matanya teduh, sesekali ia menerawang ke atas. Mungkin sedang berpikir keras untuk mengatakan sesuatu tentang kisah itu. “Tragedi perempuan itu tak baik untuk disaksikan,” ucap Meutia tiba-tiba sambil menuju tempat duduknya.

“Dia adalah ikon perempuan Aceh yang pantang menyerah. Semestinya menjadi teladan.”Khansa memancing suasana. Perdebatan antardua kubu pun tak dapat di elakkan. Dan situasi  seperti ini sengaja kurencanakan semula seapik mungkin, sebuah scenario perang mulut antardua kelompok. Satu pihak menentang keberadaan kisah itu, sedangkan satu pihak lagi mempertahankan habis-habisan bahwa kisah itu layak disaksikan.

Masing-masing begitu pas memainkan perannya. Ada  berwajah tegang tanpa henti meracau; ada yang tergelak-gelak hingga aku pun menjadi was-was. Namun dalam riuh suasana, aku mempehatikan sorot suram mata perempuan itu. Mulutnya seperti terkunci dalam garis pasi lekuk wajahnya. Aku tak mengerti kenapa dia diam padahal selama ini kukenal ia begitu energy dan pandai beretorika Tiba-tiba kulihat ada binar di matanya membuat suasana kembali hening.

“Kenapa Meutia?” Perlahan kuhampiri perempuan itu. Namun ia tak menjawab dan tetap tertunduk.  Ia menggoyang-goyangkan  lutut dengan tangannya. Ekor matanya mengerling keadaan, dan terlihat bibirnya mulai gemetar. “Ibu ku juga pernah menangis seperti itu. Apa kalian suka menontonnya,” ucap mutia yang tiba-tiba meledakkan tangis.

Kaul di Kampung Sunyi

AKHIRNYA aku kembali terdampar di sudut kampung sunyi usai bergelut dengan hiruk pikuk dan riuhnya angin kota. Kulihat Balee Manyang masih seperti lima tahun lalu, beratap rumbia dan berdinding lapuk. Sederhana berdiri dalam kepungan hamparan sawah yang bulir padinya masih leluasa mereguh embun di pagi mendung ini. Di rangkang kecil, Zuk tampak damai dalam kusyuk simpuhnya. Genggam tasbih bergerak perlahan yang padu dengan komat-kamit mulut sepanjang subuh tadi hingga terang tanah. Muasal dari balee-balee itu, alunan zikirnya mengalun sayup-sayup merdu ke seantero dayah. Rupa Zul sekarang juga kian menawan dibalut pakaian putih. Mungkin itu hadiah dari Abu Cut sepulangnya dari tanah suci.

Ah, membayangkan sosok Abu Cut, semangatku kembali runtuh. Lalu kurasakan kedamaian di kampung ini hanya sesaat. Belum lagi segudang pertanyaan yang akan beliau berondong bak peluru yang menusuk tubuh. Langkahku betul-betul surut jika aku tidak merasa kasihan pada Mak. Permohonan terakhirnya tadi, harapan terjal yang beliau tindihkan di pundakku. Dugaanku tidak meleset saat aku tiba di Balee Manyang, nada-nada keruh sudah Abu Cut pamerkan dari rona merah wajahnya. Langkahnya mondar-mandir yang tampak mengulum sinis menghujam cela seraya melempar buku itu.
“Apa yang kau harapkan dari semua ini. Kau pikir bualanmu ini akan mensejahterakan masa depanmu dengan anakku. Inikah maksudmu bagian dari dakwah? Baah, Seni tak lebih dari suatu hal yang melenakan manusia!” Abu Cut berhenti sejenak. Fitri naik seraya membawa nampan berisi kue dan minuman. Gadis itu masih bersahaja seperti dulu, kebaya dan kerudung panjang. Sungguh tak bisa dipercaya ketika orang mengatakan bahwa Fitri yang tergolong remaja berayahkan lelaki keriput berjenggot uban. Suatu rentan usia bak jarak dua kutub. Fitri mengulurkan tangannya, dan aku rasa cahaya wajahnya yang dulu menyejukkan, kini berubah jadi getar kerisauan, kian menyesakkan ketika Abu Cut menyulut kupingku lagi; “aku lebih menyukai Zul, pemuda alim yang sedang berzikir itu!”

Sejak dulu, Abu Cut memang terkesima pada suara indah Zul. Tuhan telah menganugerahkan sedikit titisan Daud pada pemuda itu. “Tapi Buya...Bu..ya Hamka sang kharismatik juga berdakwah dengan pena”ujarku dengan gugup. Ingin sebongkah harap itu masih tersisa “Aku tahu Hamka juga seorang ulama. Tapi layakkah beliau mengumbar cinta di tengah khalayak. Beliau juga pernah dihujat karena Kapal Van De Wick” suara Abu Cut menggelegar. Nafasku terengah seiring peluh yang meregangkan bulu-bulu kulitku.

“Maaf Mujala, aku tak dapat memenuhi keinginan Mak mu. Sebelum engkau menjadi Teungku sempurna dan membuang kebiasaan burukmu itu” ujarnya perlahan. Namun aku merasa seperti prajurit yang kehabisan amunisi lalu siap-siap dibugilkan musuh untuk diarak keliling kota.

Aku segera beranjak dari Balee. Putus asa dan menanggung malu. Tiba-tiba dengan tergesa Fitri menghampiriku. “Aku suka cerpenmu yang di koran kemarin. Kisahnya menyentuh relung hati,” ketusnya dengan senyum merekah. Aku tersipuh mendengar basah-basihnya, sebelum dikagetkan dentumam kecil dari balik dinding. Fitri pun masuk tergesa-gesa. Ia tahu betul perangai Abunya. Kubayangkan raut beringas Abu Cut di balik dinding ketika Fitri memuji karyaku. Seperti aku percaya bahwa kaul mak menjodohkan aku dengan Fitri sejak lahir tak terlalu berlebihan, maka aku percaya pula ketika Mak pernah bercerita kenapa Abu Cut mengakhiri masa tuanya di usia lanjut karena banyak perempuan tak menyukai satu-satunya lelaki yang tak bisa berpantun itu di kampung sunyi masa itu.

Rektor

MASIH kuingat detik-detik menjelang temaram senja di RKU 3 saat itu,  lelaki penulis hikayat yang kerap kami panggil Abu duduk di kursi depan pintu RKU 3 yang berlatar ruangan sumpek, sampah  bertebaran di bawah kursi-kursi reot, juga sebuah papan tua dan  kaca berdebu yang tak pernah tersentuh air. Kulihat tangannya sembari melihat kertas buram yang berisi baris-baris yang tak terselesaikan. Matanya kemudian terpaku pada pohon asam jawa di seberang dan hamparan ilalang yang dibiarkan kering menguning. Barangkali ia sedang mencari inspirasi untuk menyambung bait-bait tersebut.
“Aku ingin mengkritik rektor melalui hikayat ini. Agar ia tahu bahwa ruang kuliah kita  ini masih bernafas tapi sedang sekarat” timpal Abu sambil mulutnya mengulum kretek. Suaranya yang merdu sesekali melengkingan panjang hingga beberapa mahasiswi yang melintas cengingisan. “Kamu pikir sang rektor langsung merespon. Jangan banyak mimpi kawan,” sanggahku di selaya jeda lantunan hikayatnya. Namun, Abu hanya menatapku seraya mencibir.

“Daripada kau yang sibuk di kamar dengan cerpen cintamu itu. Apa kau pikir, dengan cara begini gadis bangsawan itu akan menyukaimu. Heh, tak usah berharap banyak”. Aku terkaget karena tak menyangka ia tahu tentang maksud dari cerpen yang sering kubuat itu. Terasa hati ini menggelegar karena aku tak suka diremehkan seperti itu, dan aku akan tulis catatan untuk rektor.

Abu telah  menyelesaikan karyanya ketika bias mentari menyisakan warna sancet yang tampak dari rerimbun mahoni teduh. Tinggal menyelaraskan lirik nada dengan teks yang ditulis, maka sempurnalah tugasnya sore ini. Lalu ia pun berbaur dengan para gadis yang telah menyudahi latihan teater di bawah rindang pohon asam jawa. Abu selalu minta diboncengi sambil berjanji akan membuat satu syair indah untuk gadis itu.

Abu memang selalu begitu, suka menjual mimpi-mimpi. Sementara bangunan kumuh ini masih renta seperti dulu. Tetap tak ada yang perduli. Tiga tahun sudah berlalu, ketika aku kembali berdiri di teras ruang kuliah terasa seperti seonggok sepi. Rintik-rintik kecil  mengabarkan bahwa langit sedang muram. Aku telah menyelesaikan catatanku, dan berharap Abu muncul  lalu membacakan

Kubayangkan wajah Abu merekah ketika melihat bangunan kumuh ini yang telah disulap menjadi bangunan dengan desain modern. Pohon asam jawa di seberang juga telah rebah bersamaan dengan lenyapnya hamparan ilalang bergantikan padang rumput hijau. Namun, kecelakaan di simpang maut setahun lalu, Abu mengalami pendarahan otak hingga mengakhiri hidup Abu. Lantunan suara merdu Abu yang senang membaca hikayat, tidak akan lagi kudengar. Aku pun makin bimbang akan kemana setamat kuliah, dan beberapa catatan yang makin buram kulempar  lembar perlembar ke lautan gerimis, dan sebait demi sebait tulisan itu hilang dilumat butir-butir air