Tampilkan postingan dengan label Karya-Edi Miswar Mustafa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya-Edi Miswar Mustafa. Tampilkan semua postingan

Bapak yang Tersenyum Saat Mendongeng

Bagai memasuki lelorong waktu, wajah-wajah itu kembali menguraikan kisah demi kisah, mengundang ingatan lama, menerobos sekat kealpaan, dan menjelma menjadi semacam tugu peringatan. Malam ini dan hari-hari berikutnya, mungkin aku akan terus mengingatnya. Mengingat pernyataan-pernyataan yang santun dari seorang tokoh muda lulusan Universitas Leiden itu, seorang pembicara  yang terkesan sangat cakap dalam hal beretorika ?di podium di teras rumah yang dialihfungsikan sebagai panggung itu.

“Museum HAM ini kita dirikan dengan maksud baik, bukan untuk mengungkit luka lama dan kemudian kita akan mengingat-ingatnya kembali lantas pada suatu saat. apakah kita. apakah anak-anak cucu kita lalu berusaha melakukan balas dendam kepada kaum yang kita ingat saat ini sebagai penindas. Meseum HAM ini bukan untuk mereka yang menang dan tersenyum-senyum, bukan juga bagi mereka yang kalah-murung-muram dan sakit hati. Museum HAM yang kita dirikan ini sebagai pelajaran bagi semua kita bahwa baik menang, baik kalah, harus diingat baik-baik. rakyatlah yang senantiasa sebagai korban di mana pun konflik Di Jerman, pendirian Museum HAM dimaksudkan agar peristiwa yang dahulu tidak dialami lagi oleh anak cucu mereka. Juga di Afrika Selatan, dan beberapa tempat lainnya di dunia ini. Kita, malam ini, sepakat bahwa kepahitan yang lalu tidak boleh lagi terulang kembali oleh generasi kita yang hidup pada masa yang akan datang. Jangan ada lagi air mata karena alasan ketidakadilan, dan alasan-alasan lainnya. Jangan ada kemunafikan sebagaimana hari-hari kemarin, yaitu setelah memperoleh  kekuasaan, orang-orang yang dahulunya menuntut keadilan maka kemudian mereka yang berganti wujudnya menjadi tiran berikutnya. Inilah makhluk terkutuk yang harus kita cegah kemunculannya sejak sekarang.”

Tepuk tangan bergemuruh. Para undangan yang baru saja selesai menonton film dokumenter yang dibuat lebih sepuluh tahun lalu itu pun berhamburan ke dalam rumah. Dan memang sebagaimana yang disampaikan Ketua Panitia Peresmian Museum HAM, di rumah berlantai dua itu tak ada foto-foto penuh darah dari mereka yang terampas hidupnya. Hanya foto-foto dalam format pas foto: wajah dan sebatas dada. Selanjutnya berisikan nama, alamat, dan hilang pada tahun berapa. Kubaca beberapa paragraf mengenai mereka yang direnggutkan dari alam fana ini: dua guru besar pada dua universitas, rakyat biasa, sipil yang dituduh pemberontak, pegawai negeri, polisi, tentara.

Nafasku sesak. Mataku jadi perih. Dan sesuatu yang panas naik ke kerongkongan. Segera kuhindari tatapan orang-orang yang beralih tempat antara foto yang satu ke foto yang lain. Pada panitia yang kebetulan berdiri di dekatku kutanyakan kamar kecil. Laki-laki kurus bermata cekung itu menunjukkan tempatnya dan aku segera ke sana.

Aku yakin foto bapakku tidak berada di dinding-dinding itu. Beberapa foto yang kulihat, mereka yang tertembak orang tak dikenal atau hilang entah ke mana, umumnya berangka tahun 2000 sampai tahun 2004. Itu catatanku. Dua. Yang terbunuh dan yang hilang. Dan andai foto bapakku ada di sana, bapakku yang guru desa itu termasuk mereka-mereka yang terbunuh.

Bapakku seorang guru yang telah mengabdikan dirinya semenjak awal kemerdekaan bangsa besar ini. Seorang guru yang kemudian ditemukan menjadi mayat jauh dari kampung halamannya. Peluru menghancurkan kepalanya. Ia ditembak dari jarak dekat. Otak berhamburan keluar. Matanya, saat dibawa pulang ke rumah sore harinya, masih mendelik. Tapi hanya tinggal satu, hanya mata kanan. Dan mata itu tak bisa ditutup lagi. Kedua lengannya dipatahkan. Bahkan tulang-tulangnya yang putih, yang di beberapa tempat tak lagi terbalut tulang, masih menyisakan darah yang sudah membeku. Dua hari setelah bapak tiada, ada yang bercerita kepada ibu bahwa saat ditemukan dini hari, kedua lengan bapak masih terikat ke belakang.

Kala itu aku masih kelas satu SD. Aku belum dapat membayangkan keadaan bapak ketika tubuhnya disakiti sedemikian rupa. Mungkin ia telah berulang kali memohon ampun atas apa yang dituduhkan padanya sehingga menyakiti hati mereka. Mungkin juga bapak tidak bersikap rendah seperti itu. Mungkin beliau bersikap gagah dengan berkata, “Mau bunuh silakan bunuh, karena apa yang kukatakan, apa yang telah kulakukan adalah suara nuraniku.”

Baru di kemudian hari, selepas aku SMP, ibu bercerita mengenai tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepada bapak. Padahal bapak hanya mendongeng di kelas, sebagai selingan saat ia mengajar, berkelakar disela-sela rasa kantuk yang menyerang murid-muridnya.

“Anak-anakku lebih takut kepada manusia ataukah kepada Tuhan?” tanya beliau yang segera disahut serentak murid-muridnya, “Lebih takut pada Tuhan!”

“Tapi ketahuilah anak-anakku, zaman sekarang banyak orang yang lebih takut pada manusia daripada Tuhan-Nya.” Beliau melihat mata kecil mereka yang tentunya sama sekali tak mengerti mengenai apa yang diucapkannya, lalu beliau tersenyum arif dan paham mengenai usia mereka yang masih belum memungkinkan menyerap pengetahuan tentang keadaan sekeliling untuk membuka mata hati.

Setelah bapak tiada, dua abangku pindah dari kota kecil kami karena mereka tidak tahan lagi pada orang-orang yang mengatai-ngatai bapak sebagai pemberontak. Mereka dibawa Abucek, bersekolah dan tinggal di kota lain di lain kabupaten yang menurutku sangat jauh saat itu. Pun satu-satunya kakak perempuanku yang tak lama kemudian juga diboyong Makcek, tapi berbeda kota dengan dua abangku.

Ibu kemudian berjualan mie caluek setelah gaji bapak ditahan. Orang-orang memanggilku G, singkatan dari GPK. Dan ibu menangis karenanya. Tapi, alhamdulillah, semua itu sudah berlalu. Ibu pun kini telah tiada.

Malam ini, dalam kesendirianku di teras rumah ini, di tengah-tengah orang-orang yang asyik berbicara mengenai HAM sambil minum kopi dan teh, kembali teringat olehku wajah bapak yang tersenyum saat mendongeng.

Setelah Kematian Haji Kamil

HARI telah diambang malam ketika jenazah Haji Kamil diturunkan ke liang lahat. Namun, bisik-bisik orang sekampung yang mengantarkan jenazah Haji Kamil masih berdengung bagaikan lebah. Ini tanah pekuburan keempat yang digali orang upahan ahli bait Haji Kamil. Sebelumnya, berbagai keanehan telah terjadi. Dan, orang-orang pun mulai mengait-ngaitkannya dengan adegan di film Rahasia Ilahi. Karena demikianlah yang dialami penggali kubur.

Pada penggalian pertama, baru sedepa tanah tergali, ular bermacam rupa keluar dari dalam kubur. Sementara pada penggalian kedua, baru sedepa setengah tergali, air membanjir dari tanah tersebut. Padahal, mereka tahu bahwa di sana bukanlah tanah yang berpotensi bermata air. Sedangkan di tanah ketiga, mereka, para penggali upahan itu kewalahan menggali tanah. Entah mengapa, tanah yang tampaknya gembur itu, malah sealot karang.
Aku memang di sana. Di tiga tempat tersebut. Sudah lama aku terpikat pada anak Haji Kamil, anaknya yang semata wayang itu. Sehingga bagiku, musibah gadis pujaanku itu adalah musibahku juga. Hatiku terasa diiris perlahan manakala kutemukan gadis itu terisak tiada henti di samping ibunya yang mengenakan selendang hitam berbordiran ungu yang rumit. Dan, di tengah-tengah pentalakinan teungku, masih kudengar bisik-bisik jahat orang sekampung. Geram aku. Ingin benar kutonjok mulut-mulut itu.

Sebenarnya Haji Kamil seorang guru di kampung kami. Ia orang panutan. Selain sebagai seorang guru SD, ia senang menghabiskan waktunya di rumah Allah. Jarang di kampung kami orang seperti Haji Kamil yang suka menolong orang-orang yang membutuhkan pertolongannya. Mungkin, sebagaimana semua orang tahu, sesungguhnya ia pun rela berkeringat-keringat pada pembagian zakat fitrah di saat Hari Raya Idul Fitri, menolong pembagian daging hewan qurban, pembagian beras miskin, dan sejumlah kerja sosial lainnya.

Sebentar mata kami beradu sepulangnya dari tempat persemanyaman. Gadis itu mengangguk ke arahku. Di rumah duka kucoba melakukan apa yang dapat kukerjakan. Walaupun batinku bertarung antara keikhlasan dan pamrih. Apakah pertolonganku karena aku mengharapkan gadis itu memberikan isi hatinya untukku? Dan, aku tidak peduli. Aku ingin menolongnya.

Oleh karenanya, malam pertama doa bersama untuk almarhum Haji Kamil yang dipimpin Imum Kampung kami itu pun, mulailah mataku mengenal orang-orang yang paling senang dengan kematian Haji Kamil. Orang pertama, namanya Sudir. Tukang catut di pasar ikan. Tak ada orang yang tak kenal dengannya karena kesukaannya berganja di balai nelayan di pinggir kampung setiap malamnya. Kudengar dari mulutnya di warung kopi Bang Nurdin, setelah semua orang pulang dari rumah duka, mengenai Haji Kamil yang pernah punya hubungan gelap dengan Kak Ainul Mardhiah. Sampai-sampai istri Haji Kamil dan Kak Ainul Mardhiah saling jambak-jambakkan di kedainya Kak Ainul Mardhiah. Kala itu, aku masih ingat, aku masih kelas III SMP.

Dari orang kedua, Brahim Mata Juling, tukang becak di kota kecamatan kami, mengenai Haji Kamil yang memakan harta anak yatim, jatah pembagian beras miskin, menggelumbungkan harga material untuk pembangunan meunasah kampung kami. Sementara dari orang ketiga, ialah Ardian. Dia teman baikku. Sengaja ia datang ke rumahku dan membicarakan anak Haji Kamil yang sudah lama kutaksir. Memang, ia sendiri pun tak habis pikir, mengapa Haji Kamil punya tabiat seperti itu. Ia hidup berkecukupan karena bermertua kaya. Penampilannya senantiasa rapi. Tutur bahasanya mengalun lembut dan teratur. Kiranya tak ada orang semenarik Haji Kamil di kampung kami.

Tapi, Ardian, teman baikku bilang, Keburukan Haji Kamil yang paling tak disukainya adalah melarang tadarus di bulan ramadhan dengan alasan pentadarus kurang menguasai kaidah membaca Alquran. Padahal, ia sendiri tak bisa mengaji. Namun, kami berdua sepakat bahwa kesalahan Haji Kamil merupakan tanggung jawabnya sendiri di hadapan Allah Swt. Sementara, mengenai aku yang terpikat dengan anak gadisnya, ia setuju. Sebab, katanya, dosa orang tua tidaklah dipikul oleh anak keturunannya.

Ketika kuutarakan niatku pada ibu untuk melamar anak Haji Kamil, tak kusangka ibu menolak. Ibuku beralasan bahwa ia tak mau berbesan dengan orang sebejat Haji Kamil.

Zainab

TINGGAL hanya panci yang pantatnya pekat seperti malam tigapuluan. Zainab melengos sebentar sembari merenggangkan kempitan lututnya yang mulai kebas. Ia mendoyong menggamit sabun krem, dan panci itu disabun bagian dalamnya saja. Diguyurnya segayung, dua, dan tiga gayung air.

Zainab membersikan tangannya dan berdiri menyangkutkan panci itu ke dinding kayu yang sudah  tampak lapuk.  Lapuk seiring usia rumah yang dibangun tiga puluh tiga tahun lalu ketika Nazarina lahir. Anak perempuan satu-satunya itu kini sudah beranak dua putrid nan cantik dan lucu..
Di pagi makin merangkak mengamban siang. Ia tahu di halaman depan sana, persis berhadap-hadap dengan rumah Aminah, adik satu-satunya yang seibu, cucu bungsunya sedang bermain seorang diri. Seperti biasa, Zainab akan melihatnya sedang memotong pucuk-pucuk daun waru dengan pisau lipat karatan dan sudah lama tak dipakainya lagi. Atau, kali yang lain mengayuh becak beroda tiga peninggalan si sulung yang sekarang sudah duduk di kelas tiga SD.

Ah, lebih baik ia mandi. Badan begini berkeringat. Sebentar lagi Nazarina membawa pulang belanjaan sebelum berangkat lagi ke puskesmas arah selatan, dekat jalan negara Medan-Banda Aceh. Beruntungnya ia punya perempuan yang seorang itu. Kalau tidak, entah bagaimana. Setelah selesai bersalin, ia menjumpai cucunya. Dan, belum tujuh meteran ia mendekatinya, gadis kecil itu menoleh ke arahnya dan serta-merta menghamburkan diri padanya.

  “Nenek ...! Minta uang ...!” Bocah itu bergelayutan di dasternya.adi ‘kan ada dikasih mamak,” ujar Zainan mencoba mengelak. Ia sendiri tahu benar kalau cucunya tak akan pernah mundur minta tuntutan. Zainab bukan enggan uang lima puluh ribunya dipecah; sebab, jika sudah begitu maka tanpa terasa uang tersebut akan tak tersisa lagi. Tapi si bocah tampaknya makin geligas saja menggagapi saku dasternya.

“Untuk apa uang lagi, ‘kan sudah sarapan,” serunya agak panik. Cepat-cepat ia pertahankan sakunya dari rogohan si kecil. Tiba-tiba ia ingat uang seribu lima ratus perak yang ia selipkan ke bawah koran, alas lemarik tempat lauk-pauk yang diselipnya dua hari lalu. Uang itu sisa beli sekantung plastik kopi di warung Mahmudi dan kue basah Rp 3.000 dari uang lima puluh ribu miliknya. Untuk dua cucunya seribu-seribu lantas selebihnya buat Sanusi.

Anak nomor duanya itu sudah dua hari tak makan nasi. Dua hari hanya makan mie goreng basah dan mie goreng rebus pemberian Effendi dan Samsuar, teman dekat anaknya yang bungsu.Kenapa tak pulang” tanyanya dengan perasaan miris. “Untuk pulang tak cukup waktu,” jawab anaknya sambil menimpali “ harus siap sedia saat masuk waktu sembahnyang. Jika tidak ada dia maka kumandang azan akan sumbang.

Zainab diam yang sebenarnya tergerak untuk mengingatkan, “mau bagaimana lagi, anak-anaknya, terutama yang satu ini, biar matanya sudah buta tapi tetap saja masih jumawa. Sombong. Heran ia, biasanya kalau orang sudah keseringan lapar maka sedikit demi sedikit hatinya akan lunak. Penyakit-penyakit hati akan lekang dengan sendirinya, laksananya pudarnya warna pada baju hitam yang dicucinya di sungai,” gumannya Zainab.

Begitulah, sampai Nazarina membawa pulang belanjaan, ia masih belum melupakan bagaimana anak nomor duanya yang lambat-lambat berjalan dibantu tongkat. “Rupanya memang temannya yang ambil, Mak,” kata Nazarina. Lalu pergi lagi ke puskesmas dengan motor merah putihnya.

Sejenak ia terkesima. Tega benar. Tentu saja uang gaji bulanan itu dicuri sewaktu Sanusi pergi mandi. Sanusi tak bisa melihat meski sejarak depa. Anaknya hanya mampu melihat bayang-bayang; orang-orang yang bergerak. Entah bagaimana, ia sendiri tak paham penjelasan yang diberikan dokter. Kabar yang ia dengar, anaknya telah kehilangan penglihatannya karena alkohol yang ditenggaknya.

Memang, semenjak SMA ia sudah suka mabuk-mabukkan.  Semua orang di kota kecil itu tahu kalau Sanusi telah mencampurkan alkohol yang digunakan di rumah sakit dengan fanta atau sprite. Dan, walaupun kerap dibabak-beluri tentara ketika darurat militer, tapi, kebiasaan mabuknya tak pula kunjung surut. Beruntung ada iparnya yang polisi, sindir orang-orang kepadanya.

Sekarang Sanusi sudah tobat. Allah sendiri akhirnya yang menghentikannya dari kebiasaan laknat itu. Soal berobat pun, ia ingat, entah ke mana-mana sudah; ke Sigli, Lhokseumawe, Banda Aceh, Medan, bahkan Penang. Di sana kebetulan ada Isniar, anaknya Aminah, yang menikah dengan warga asli Malaysia. Tapi, Zainab sendiri masih saja pusing dibuatnya. Minta kawin, dikawinkan. Semua ditanggungnya. Sekarang, minta lagi untuk modal usaha dorsmir(Sanusi berterus-terang bahwa ide itu punya istrinya).

Perang pun Kembali Berkecamuk

Di masa itu, kata orangtua itu padaku, golongan pergerakan yang dulunya mengatasnamakan rakyat melawan serdadu-serdadu bayaran neoliberalisme dan memenangkan dari kaum bayaran itu. Tapi tak berapa lama kemudian, setelah menjadi golongan berkuasa di tanah ini, maka segeralah kelakuan-kelakuan takabur dan riya menampak dan golongan pejuang itu pun terpecah-pecah.

Mengapa, Kek, hal tersebut dapat terjadi, tanyaku. Karena perut, jawabnya singkat. Pandangannya kembali menjejak arah utara di mana persawahan berundak-berundak seperti tangga-tangga yang sengaja dibuat tangan-tangan berbakat seni dengan indah sekali. Tapi, di masa itu, kami mengistilahkannya dengan nama materialisma. Memang, tambah orang tua itu lagi seraya menyulut rokok kreteknya untuk yang ketiga, musuh kita, manusia yang seharusnya hanya menginginkan hidup damai sesama manusia adalah takut mati dan terlalu cinta pada dunia. Nabi Muhammad pernah mengatakannya ketika beliau masih hidup. Dan, ketakutan akan kejatuhan martabat di mata sanak-keluarga, handai-tolannya, dan istri mereka yang cantik-cantik. Maka terjadilah pengebirian yang merajalela di mana-mana.
Kakek, aku tak mengerti maksudmu kali ini. Aku hampir benar-benar terpesona padanya. Tak kusangka, di tempat sunyi celaka ini, ternyata aku masih dapat bertemu dengan orang-orang macam ini, mantan kaum kiri yang kini kembali melarikan diri ke gunung-gunung, dan ke negara-negara di utara.

“Mau merokok? Silakan!” Tawaran si kakek kutolak dengan halus. Aku berdalih bahwa aku memang tidak merokok. Ia tersenyum. Namun, perlahan wajahnya ia dekatkan ke wajahku. Lakunya serupa orang yang hendak membeberkan rahasia besar. Para pemimpin kami yang berpengaruh saling berlomba mendapatkan proyek. Dan, untuk mendapatkan itu, mereka harus menerima konsesi dari pemerintah yang lalim yang dilakukan secara rahasia di Jakarta.

Kabarnya, setelah golongan pergerakan menguasai parlemen maka saat itu juga menjamurnya aksi kriminalitas? Kakek itu tertawa. Gelas berisi kopi dibawanya ke mulut, diseruput selekasnya, lalu ia berkata, beberapa proyek berhasil diketahui oleh para pejuang kelas paria yang banyak itu. Dan, mereka segera mengangkat senjata-senjata kiriman yang dibawa melalui Selat Malaka lintas Malaysia dari timbunan di lereng-lereng gunung.

Dan, luka tanah ini lagi-lagi menganga. Pemerintah goblok ini hanya melihat beberapa kasus kekerasan sebagai peluang membenturkan kepala antara sesama mereka, yakni si pengkhianat dan si pejuang rakyat. Tentu saja militer punya kepentingan yang jelas. Kau tahu mengapa? Di negera-negara seperti negara kita, negara ketiga, memang telah ditancapkan metode menancap kuku kekuasaan melalui aksi brutalisma dalam tata ukuran demokratisasi omong kosong. Demikianlah, tanah ini menjadi kuasa pasar dunia, neoliberalisme.

Apakah seperti Sabang yang kini kembali hendak dijadikan pelabuhan internasional seperti dulu-dulu itu? Si kakek tertegun rupa-rupanya. Lalu seperti ada sesuatu yang mencengkamnya secara menyakitkan; terbersit lewat kata-katanya, kau masih terlalu kecil kalau mengambil permasalahan itu. Saya katakan terlalu kecil. Sebabnya, karena daya penghancur kepada kita, dilakukan secara struktural oleh paham neoliberalisme. Tapi, kita, selalu sempit dalam melihat gejala-gejala awalnya. Seolah-olah etnosentrisma semata-mata, seolah-olah hanya hegemoni suku bangsa terbanyak atas suka bangsa minoritas.

Celakanya, para agamawan pun punya perspektif berbeda sama sekali. Perang yang kini kembali berkecamuk karena ketak-syukuran kita kepada Tuhan. Ditambah misi zending sebagai momok yang membuat kita sangat gampangnya untuk dibodoh-bodohi. Aku turun dari rumah panggungnya. Masih kuingat jelas wajah-wajah berbingkai mewah yang terpajang di ruang tamu; Dr. Hasan Tiro, Teungku Abdullah Syafi’ie, Teungku Ishak Daud, Teungku Usman Lampoh Awe, dan beberapa orang lagi yang pernah kubaca dalam sejarah pergolakan tanah ini di internet dan dalam arsip-arsip lama di markas. Sesampainya di kamar losmen kelas kambing yang kusewa di kota kecil ini, kurang lebih 70 kilometer arah timur kota Banda Aceh, segera kutuliskan laporan singkat kepada atasan atas nama sandiku; Nur el-Samir. Bravo, Pak. Orang-orang dan rumah-rumah di lereng gunung xvii harus segera disekolahkan.

Nurul Hayati

Ia mengira, Teuku Muda Sulaiman memutuskan mengawani karena untuk menyelamatkan dirinya. Nurul Hayati yang memang tak lagi muda namun tetap menyisakan kerupawanan, akhirnya tahu juga perasaan laki-laki itu sesungguhnya. Sewaktu pihak hulubalang terdesak, seseorang datang kepada Abu panglima perang pihak paderi. Laki-laki itu melaporkan bahwa senjata-senjata jepang banyak digunakan oleh pihak sebelah sana. Sang komandan bermufakat segera dengan para pembantunya. Dan dengan cepat diputuskan; penyerbuan terakhir.

Kota Kewedanaan Meureudu telah dapat dikuasai oleh pihak paderi, juga Sigli. Surat dari Mr. Muhammad Hasan di Jakarta agar jabatan-jabatan pemerintahan diserahkan kepada kaum hulubalang telah lama disembunyikan. Hanya hulubalang di Lamlo yang belum menyerah. Mereka, para hulubalang di sana masih gencar mengirimkan surat undangan ke sekian kali ke NICA. Namun, laporan yang simpang-siur dari para paderi menyimpulkan bahwa 47 orang pengantar surat telah disembelih di pisisir timur dan 15 orang di pisisir barat.
Nurul Hayati yang cantik tidak tahu-menahu mengapa sang Abu hampir tiap malamnya mengumpulkan abu-abu dari dayah-dayah lain. Ratusan pemuda bersenjatakan senapan, pedang, tombok, dan rincong berjaga-jaga di luar. “Tentu putriku mau. Mau, saya ingin, kejadian tempo hari tak terulang lagi,” putus Abu Nurul Hayati. Semua turun dari seuramoe depan. Lelampuan dari putik ilalang gajah berpendar-pendar di tangan pengikut.

“Nurul, anakku sayang,” bujuk Ibunda di seuramoe tengah, “maksud Abu baik, Nak. Supaya kita tak lagi berbunuh-bunuh. Supaya pertumpahan darah ini cepat selesai.” Nurul Hayati hanya mengguguk di balik bantalnya. Telah lama ia dengar bagaimana hulubalang-hulubalang itu melakukan pekerjaan-pekerjaan nista. Merampas tanah rakyatnya sehingga sekeluarga akhirnya terusir.

Nurul masih tak lupa ia, bagaimana Teuku Ibrahim yang hitam dan muka penuh rambut itu mencoba merayunya di tepian sungai semasa akil baligh dulu. Tapi apa dayanya. Ia hanya seorang perempuan. Entah apa yang akan terjadi seandainya abu tidak datang secara kebetulan di sana.

“Apa akalku, Bang,” tanya Nurul Hayati saat ia menemui sang kakak. “Abu benar, Adikku. Tidak semua dari mereka seperti yang pernah kau dengar. Banyak juga dari mereka yang tidak mau masuk sekolah Belanda dulu karena mereka tidak mau menjadi kafir. Termasuk Teuku Muda Sulaiman.”

“Abang,” bisik Nurul Hayati setelah lama diam. Sementara bulan seperti bermuram durja. “Burukkah rupanya. Apakah seperti Teuku Saleh.” Maka tertawalah sang kakak. Teuku Saleh berperangai culas dan juga pendengki. Kulitnya kuning seperti gading. Matanya sipit. Namun, di dalam mata itu, orang akan menemukan sesuatu yang tidak menyenangkan. Dialah ayah dari beberapa anak Abdullah, kaki tangannya. Juga salah satu dari sekian anak Thaleb, juga kaki tangannya. Pula Mahmud. Ruslan. Tapi, waktu itu di masa Belanda masih berkuasa di tanah ini, siapakah yang berani melawan. Orang-orang di kampung itu masih belum lupa bagaimana lima marsose membakar hidup-hidup Teungku Ahmad yang baik hati itu beserta keluarganya. Hanya karena Teungku Ahmad melaporkan perbuatan Teuku Saleh ke keluarga besar hulubalang itu.

Kini, Nurul Hayati sudah tua. Ia tidak beranak. Suaminya, Teuku Muda Sulaiman diculik sewaktu sang Abu naik gunung kembali menentang Soekarno. Beberapa pemuda kemudian melamarnya. Tapi, Nurul Hayati menolak mereka dengan halus. Sebab, Nurul Hayati masih ingat suaminya. Sosok yang santun, lemah-lembut. Rajin beribadah.

Ia buka surat terakhir yang masih disimpannya; Nurul Hayati, pujaan kalbuku, Kanda takkan pulang lagi ke hadapanmu sepertinya. Dua malam berturut-turut kakanda saksikan. Betapa darah terus tumpah. Agaknya benar kata orang tua kita dulu. Jikalau agama hanya kedok bagi penguasa maka tanah ini akan terus berdarah.”