Tampilkan postingan dengan label Karya-MAKMUR DIMILA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya-MAKMUR DIMILA. Tampilkan semua postingan

Pencuri Kambing

DUA pemuda mantan pencuri kambing duduk di balai jaga. Akrab sekali. Mereka saling tatap muka. Merokok pula. Mereka berlomba-lomba membentuk asap seperti huruf “O”. Siapa yang bulatannya bertahan lama, “dialah yang bakal dipilih!” ujar Sulaiman pada Hasballah.

Mereka ingin mencalonkan diri sebagai kandidat ketua pemuda. Mereka tak khawatir kalau warga tak mau memilih. Perihal mencuri adalah cerita lama. Kini mereka, dalam sebulan terakhir tepatnya, sudah menjadi remaja masjid. Ketika masuk waktu salat wajib, mereka rebutan mik di masjid. Berlomba-lomba jadi muazzin. Siapa yang paling banyak mengumandangkan azan, “dia yang akan dipilih!” kata Hasballah pada Sulaiman.

Rupanya tingkah laku mereka selama ini menarik perhatian warga. Penduduk kampung dimana sang pemimpin kabupaten mereka itu lahir yakin bahwa kalau dijadikan sebagai ketua pemuda, tabiat Sulaiman dan Hasballah akan semakin berubah. Dan, kampung mereka akan memenangkan lomba kampung teraman dan terbersih yang diadakan setahun sekali oleh camat. Bahkan imam masjid, kepala kampung, dan perangkat kampung lainnya sudah mulai membicarakan dan berniat untuk mengangkat dua  mantan pencuri kambing itu sebagai ketua pemuda. Namun, mereka  juga bingung: Siapa yang patut dipilih? Yang dibutuhkan cuma seorang. 

“Lah, kau dengar kata imam masjid kemarin? Hanya seorang di antara kita yang bakal diangkat,” ucap Sulaiman. “Leman. Leman. Jelaslah. Karena itu, siapa yang bisa merebut hati warga, dialah yang bakal menang.” Hasballah melepaskan asap ke muka Sulaiman. “O, kalau begitu, aku punya ide. Lihat saja nanti,” janji Sulaiman, seraya merebahkan diri di pos jaga malam itu.

Setengah bulan jelang pemilihan, mereka berkampanye. Tapi tidak melalui panggung-panggung. Mereka mendekati warga di warung-warung. Ditanggungnya semua minuman pengunjung, siapa saja, dengan uang dari hasil panen cabai merah di kaki bukit. Tak sedikit mereka menyebut-nyebut program yang akan dilaksanakan seandainya terpilih. “Jika abang-abang, ibu-ibu, adek-adek, kakak-kakak, dan kakek-nenek memilih saya, maka takkan ada lagi lubang-lubang di jalan kampung kita. Tak ada lagi anak-anak pengangguran. Saya akan buka kebun raya di lahan warisan ayah saya,” janji Sulaiman pada setiap orang yang ditraktirnya. “Saya bujuk Pak Camat untuk mendirikan gedung SMA di kecamatan kita, supaya anak-anak kampung kita tak perlu bersekolah ke kecamatan tetangga. Saya bujuk Pak Camat yang merupakan bukan orang kecamatan kita itu untuk mendirikan pasar, agar kita tak perlu ke pasar kecamatan orang,” canang Hasballah pada setiap orang yang ditraktirnya.

Seminggu jelang pemilihan, warga kian bingung. Warga sudah melupakan masa lalu Sulaiman dan Hasballah. Warga bahkan bersepakat tak mau memilh lagi ketua pemuda yang sedang menjabat ini, Bahrun, karena dinilai telah menipu warga. Awal-awal memimpin Bahrun mengagumkan, tapi mulai pertengahannya cukup membuat warga resah.

Sampai pada hari pemilihan, cuma ada tiga calon: Sulaiman, Hasballah, dan Bahrun. Sulaiman dan Hasballah yakin sekali kalau warga tak akan lagi memilih Bahrun. Mereka menganggapnya tak ada. Bahrun santai saja menanggapinya. Malahan dia yakin kalau warga akan memercayainya lagi.

Detik-detik jelang pengumuman ketua pemuda baru, tiba-tiba polisi sektor datang ke lokasi pemilihan sekaligus membuat pengumuman di halaman masjid. Warga panik. Lalu polisi menanyai warga perihal dua pemuda yang suka mencuri kambing. Seketika, segenap warga menaruh curiga pada Sulaiman dan Hasballah yang sedang berbincang-bincang dengan  Pak Camat, Bahrun, dan aparatur mukim dalam masjid.

Buru-buru aparat masuk ke masjid. “Kami meminta kalian berdua untuk ikut kami. Segera!” kata seorang polisi. Sulaiman dan Hasballah, juga Pak Camat dan sejumlah perangkat kampung terkejut. Mereka memang sudah menduga dari dulu, kalau dua pemuda itu pura-pura baik selama ini. “Jangan salah paham, Bapak-bapak. Kami cuma ingin jadikan mereka berdua sebagai mitra kami. Kami ingin jadikan mereka sebagai detektif pencurian untuk mengusut kasus pencurian kambing yang sedang marak terjadi di kecamatan kita. Mereka ini kan sudah berpengalaman, jadi sudah tahu gerak-gerik dan ciri-ciri pencuri kambing,” jelas polisi. Semuanya lega. Bahkan Sulaiman dan Hasballah tak percaya.

Di kemudian hari, selain Hasballah - Sulaiman merangkap jabatan sebagai ketua dan wakilnya, nyaris mereka setiap hari membantu polisi memburu pencuri kambing, secara bergiliran. Puncaknya, tepat setahun kerja sama, Sulaiman berhasil membantu polisi menangkap seorang pencuri kambing lintas kabupaten paling diburu, yakni Bang Landok. Tapi, Sulaiman bagai ditembak di kepala kala itu. Bang Landok adalah ayahnya yang meninggalkan dirinya dan ibunya lima tahun silam.

Semangka Kuning

Po Ramlah belum sanggup menyekolahkan satu pun dari kelima anaknya. Kini dia bercita-cita, setidaknya  Rasimah si  bungsu bisa menjadi pegawai negeri sipil. Janda itu berpikir perempuan muda masa kini yang berstatus PNS akan dengan mudah mendapat calon suami. Tak perlu dinanti, si calon akan datang sendiri.

Po Ramlah pun berencana menyekolahkan Rasimah bulan depan. Harapannya, sebagaimana harapan warga lain di kampungnya, adalah  semangka yang sedang menjalar di sepetak sawah. Kalaulah orang lain kuasa menyekolahkan anak-anak mereka sampai ke perguruan tinggi dari hasil panen semangka setiap tahunnya, “Kenapa saya tidak?” gumam dia.

Sepertinya cita-cita itu akan digapai Po Ramlah, karena sudah sebulan ini semangka yang ditanam dalam sepetak sawah sudah muncul buahnya seukuran lengan orang dewasa. Banyak pula. Ibarat gemintang bertabur di langit malam segala malam.

Tahun ini semua warga sepakat mengorbitkan semangka kuning; kulitnya hitam kehijauan, dagingnya kuning. Itu karena tahun lalu semangka kuning amat diburu muge--penggalas--dengan harga Rp 5 ribu per kilo. “Mahal sekali,” kata Po Ramlah. “Kita bisa naik haji usai panen,” sela tetangganya. Tapi warga kecewa tahun lalu. Mereka lebih banyak menanam semangka merah; mereka menyebutnya timon taiwan. Hanya Toke Lah yang menabur biji semangka kuning. Lelaki yang berani pada hal-hal baru itu pun mampu naik haji begitu panen semangka usai. Ia juga mampu menyekolahkan anaknya mengambil S2--magister--ke Negeri Jiran.

Warga riang sekali sebulan kemudian. Juga Po Ramlah. Lihatlah di persawahan kampung, semangka kuning sudah siap petik. Mereka pun sepakat untuk panen serentak, kecuali Toke Lah yang kali ini menanam semangka merah kembali.

Hari pertama panen, warga girang, terutama Po Ramlah. Ia sudah menduga kalau selangkah lagi Rasimah  bisa duduk di bangku Sekolah Dasar. Hari kedua, warga mulai linglung. Semangka kuning yang disusun rapi di bibir jalan negara sudah ada yang lebam-lebam. Tak ada muge yang datang, tak seperti tahun lalu sang penggalas tak perlu diundang. Namun, mereka sedikit lega ketika ada pembeli yang melintasi di jalan Banda Aceh-Medan itu, berhenti, lalu mau membeli satu-dua buah dengan harga Rp 2 ribu per kilo, dari patokan semula yang bernilai Rp 5 ribu. Memang ada satu dua muge yang datang, tapi petani semangka itu tak mau menjualnya kalau di bawah harga Rp 5 ribu. Para muge pun tak mau ambil pusing, “Tahun ini lebih mahal harga semangka merah hai Po Ramlah,” seorang muge membocorkan rahasia. Mengetahui itu, Toke Lah tersenyum kecil sambil membersihkan semak di sela-sela batang semangka merahnya yang siap dipanen lusa.

Maka raut muka mereka di hari ketiga usai panen pertama kian cemberut. Tumpukan semangka kuning mulai membusuk. Pun terbersit di hati mereka, kenapa tak mau menuruti saran Toke Lah tiga bulan lalu saat sebelum menabur. Lantas, daripada membusuk semua dan tak ada uang sedikit pun, mereka menjual juga semangka kuning dengan harga di bawah Rp 2 ribu.

Po Ramlah mengerang. Dia menangis di sudut rumah panggungnya. Rasimah sudah pasti tak bisa sekolah. Sebab, musim ini kali terakhir ia mawaih--menggarap sawah milik orang lain--pada Toke Lah. Tahun depan, “Mungkin saya lebih baik mengemis saja,” gumamnya. Warga lain pun demikian. Dan mereka iri pada Toke Lah yang kembali kaya raya tahun ini. Sebanyak 10 ton semangka dengan harga Rp 5 ribu per kilo, sudah cukup bagi Toke Lah untuk naik haji kali kedua dan menyekolahkan putranya ke luar negeri lagi.

“Jangan bersedih,” hibur Toke Lah suatu hari, “Po Ramlah bisa kembali menggarap sawah saya.”  Po Ramlah mengusap air mata. “Tapi dengan satu syarat,” kata Toke Lah. Apa itu? Po Ramlah tersenyum. “Rasimah yang cantik itu harus jadi anak angkat saya,” sahut pria berkacamata itu. Pok, Po Ramlah tersungkur dan tak bersuara di lantai rumahnya.

Mentari Lesu Lagi

Mentari hari ini lesu. Warung di pojok kampung tak buka. Kios Jasa Poma milik Fakri tertutup. Pagar meunasah tergembok. Tembok segala tembok di pagar perumahan kian banyak dibubuhi coretan. Aku tak mau menyebutkan satu pun apa maksud coretan itu. Karena begini wahai pembaca, setahun lalu, setelah aku menyebutkan maksud coretan itu, aku babak belur dihajar beberapa pemuda yang mengaku pemilik coretan. Dan coretan itu susah diterjemahkan. Hanya aku yang tahu. Itu karena aku pernah bergabung sebulan dengan mereka.
Oh ya, maaf, tidak aku saja yang tahu. Ada seorang lagi yang tahu. Dia Pak Dolah. Usianya senja. Kumis tebal melengkung seperti tanduk kerbau. Bicaranya tersengau-sengau. Suka membersihkan belukar yang menjalar di sepanjang tepi sungai kampung. Suka menyanjung anak-anak yang mengenakan sarung di bahu dan peci di kepala seraya menggamit kertas berisi kitab-kitab untuk ikut pengajian kala sore atau malam. Tapi, ia benci pada pemuda-pemuda yang masih duduk di warung kopi ketika masuk waktu salat. Pak Dolah ramah, murah hati, tegas, mahal marah, ringan tangan, dan gerah ibadah.

Mentari hari ini lesu. Aku disuruh keuchik mengambil satu batu di Krueng Baro; sungai yang membelah kampung kami dengan kampung tetangga. Batu lonjong dengan  warna abu-abu telah kupungut. Lalu, kubawanya ke lampoh jeurat di belakang meunasah. Mungkin ini jasa terakhirku buat Pak Dolah. Di tanah pemakaman umum itu, pasti puluhan pasang mata basah. Di sini aku terengah-engah sembari melihat kiri-kanan, apakah ada pencoret-pencoret itu yang mungkin lagi khusyuk menikmati rokok di bawah pohon asam dekat bronjong. Jika ada dan mereka menggangguku, akan kupecahkan satu per satu kepala mereka dengan batu ini. Aku bertekad memberanikan diri. Sebab, kurang ajar sekali mereka menikam Pak Dolah hingga bersimbah darah. Dan orang sekampung marah. Tapi sampai aku tiba di lampoh jeurat, mereka tak muncul. Alhamdulillah.

Tujuh hari setelah kematian Pak Dolah, akulah satu-satunya orang yang tahu makna coretan-coretan itu. Ditulis seperti tanda tangan. Tapi bukan tanda tangan. Kerjaan anak vandalis atau punk juga bukan. Kerjaan setan? Mungkin. Tapi tidak juga. Dan gara-gara coretan itu, fasilitas umum di kampung kami menjadi  kotor. Kalau kau melihat dari atas, semisal dari helikopter, wajah kampung kami persis seperti kertas putih yang dipenuhi coretan anak-anak yang baru belajar menulis boh itek kom. Kalaulah setiap pagi kami bergotong royong, menghapusnya, di keesokan paginya coretan itu muncul lagi. Ketika kami memutuskan jaga malam sejak semalam, baru kampung kami bersih.

Namun tidak denganku. Setelah  diberlakukan jaga malam, aku kerap diteror mereka. Dicoretnya di jembatan kampung sebelah. Isinya,  “Jailani, kau akan mati jika jaga malam masih diberlakukan.” Aku, mereka, mungkin juga kalian, heran, kenapa mereka menuliskan itu semua. Apa doa pengasih untuk menarik hati gadis-gadis di kampung kami yang anggun-anggun. Dan aku ketakutan setiap berada di kampung. Akankah aku diperlakukan seperti Pak Dolah. Aku yang hidup sebatang kara sejak keluargaku digulung tsunami, tak tahu harus berlindung pada siapa. Maka aku memutuskan untuk berhijrah. Aku lari sebagaimana halnya eksodus para petinggi suatu pergerakan politik. Aku merantau ke negeri jiran. Kukira kampungku sudah bersih dan aman. Tugasku adalah mengamankan kehidupan orang kampungku walau diriku dihantui ancaman dari pemuda-pemuda itu.

Mentari lesu lagi saat aku sudah di bandara, menunggu panggilan naik ke capung besi. Aku melihat ujung kakiku. Ada bayang semu mendekatiku, meski mentari malas bersinar. Saat menengadah, empat pemuda berdiri tegap di hadapanku. Mereka, ya mereka yang menghajarku kemarin, pencoret-pencoret  itu. Peluh terbit di keningku. Bajuku mulai basah. Wajah mereka menyeringai marah. Bug! Bug! Bug! “Tolong...”

Mereka Curi Toa Kami

RUPA segala rupa perempuan bersuara lantang menuntut keadilan di depan gedung megah. Mereka meninju-ninju langit segala langit. Tak sedikit mereka minta orang-orang di dalamnya keluar. Jika tak mau, mereka akan menunggu di halaman sampai tiga hari tiga malam.

Tadi pagi seorang perempuan itu  bercerita. Dulu, saat konflik rumahnya dibakar dan  suaminya ditembak. Sejak saat itu ia harus hidup bersama seorang anaknya, dengan berpindah-pindah karena tak  punya saudara untuk sekedar numpang tidur. Untuk bisa hidup, ia sering mengemis. Itu sebabnya siang kamis itu ikut ke gedung megah untuk minta keadilan
Aku pun mengambil toa tua. Bersama pemuda-pemuda berpakaian seragam tegak di halamannya. Kami berunjuk rasa melalui toa tua warisan ayah aku bersuara lantang. Kami berteriak dengan harapan akan terbisik lewat celah gedung megah yang orang-orang di dalam sedang bersukacita.

Seorang berkacamata keluar dengan mantap berdiri di depan kami dikawal orang-orang berseragam. Aku berteriak sekerasnya menghempas-hempas lewat toa tua untuk mengajukan tuntutan, “ Bapak,  mau benar-benar membantu para perempuan korban dari  konflik ini”. Namun si Bapak bungkam, hanya kilat-kilat tak berdentam yang menyambar dari mulut kamera.    “Ini kan sudah akhir tahun. Tak mungkin kita kejar lagi. Kita agendakan tahun depan saja,” ketusnya enteng.

Serta merta aku meradang sambil berseru; “Pak, kami perlu bukti, bukan janji. Jika tidaj jangan  duduk di kursi pilihan rakyat.”

Sibapak berkacamata balik menyela “ Hati-hati kalau bicara, Nak!” “Yang perlu hati-hati itu di jalan, Pak!”

Brah-bruh. Lelaki itu sempat seperti jeruk purut ketika orang-orang menahan geli. Ia pun segera  masuk ke dalam gedung megah, lalu muncul lelaki lainnya. Jawaban mereka tetap serupa.

Setelah dua malam kami menginap di halaman gedung megah itu.  Orang-orang dan perempuan-perempuan yang terus menanti kepastian, namun pagi menjadi kaget. Ternyata toa-toa tua milik kami tak ada lagi. Kami terpana setelah mengetahui kalau toa-toa kami dicuri mereka penghuni gedung megah. Masya Allah!

Piramida Peuneuphon

AKU mengintip dari  balik orang-orangan berbaju putih sobek-robek,  berkepala kelapa yang dibolongi tupai, Yah Andah. Selusin langkah selisih jarak kami. Lelaki tua itu mengenakan peci hitam, baju olahraga sekolah milik putra dia kayaknya, dan sarung selutut. Ia berjongkok di pojok pematang sepetak sawah. Tangan kanan meraba  ketika pertama ditanam padi berusia muda-mudi. Sepertinya ia memeriksa keutuhan isinya. Mulut lelaki tua itu komat-kamit.

Di bungkusan itu terlihat buliran padi hijau pekat telah dihunjam-hunjamkan di sawah berair coklat kekuningan, seperti pasukan berpakaian coklat kekuningan baris-berbaris di lapangan hijau pekat. Pula terpandang, sawah di kampung kami bertingkat-tingkat seperti tangga panjang. Hijau menebar harmoni pagi. Sejumput-jumput buliran padi putik memaku-maku sawah dari pematang tempatku berdiri sampai sejauh mata menerawang. Bau tanah tak bisa diriku bendungi terkadang.

Kicauan bangau putih jenis belekok dan pipit mempertunjukan musik bagi petani. Ya Andah, pun  berlenggak-lenggok menggoyangkan badan dan kaki sambil bersiul mengikuti nyanyian burung yang berpusing-pusing di permukaan sawah.

Aku melihat jarum panjang jam tangan diriku sudah berputar dua kali 360 derajat sedari Yah Andah terus berlenggak-lenggok, kedua kaki kini memijaki pematang sepertinya ia hendak pulang. Aku pun melangkah pesat menyusuri pematang yang digenangi ilalang menuju petak sawah Yah Andah. Bruk! Tak bersahaja bahu kanan kami saling tubruk. Tak sampai berjatuhan. “Ke mana matamu?” hardik Yah Andah sambil melototkan matanya. Kalau saja tak menghormati orangtua, ingin sekali diriku membentaknya, tapi bau tanah badan kerdilnya membuat diriku tak rela.

Ia pun pergi membelakangiku, aky balik badan dan berjalan pesat lagi hingga sampai di sudut sawah Yah Andah. Celingak-celinguk sekejap memantau orang-orang di sekeliling. Juga Yah Andah, apakah ia sudah pulang, atau berselubung di balik jambo dekat irigasi.

Mengira-ngira aman, aku mulai berjongkok dan menggapai bungkusan daun berbentuk piramida tadi. Perlahan kubuka bagian pucuknya dan kuperhatikan. Aha, rupanya ini sesaji  untuk memberkati tanaman padi orang kampungku. Inilah yang dipercayai orang kampungku selama berbilang tahun.

“Peneuuphon” itu yang mereka namai. Aku mulai bertanya; buat apa berharap pada peneuphon. Seingatku ini ritual orang-orang Hindu tempo dulu.  Maka aku mulai membuat satu persatu “peneuphon” yang ada di sawah itu. Bungkusan yang berisi  pisang monyet bersandar pada sekuntum mawar merah dan rumput berdaun lancip serta bulirnya merompok. Dan mawar merah itu kutabung dalam saku baju. Ini akan kuhadiahi buat pacarku esok Senin pagi di sekolah. Telor ras terjepit nasi ketan di pangkal bungkusan. Ada juga rambut enau yang keras dan hitam, dua tanaman hutan yang tak diriku ketahui nama dan jenisnya. Eh, ada koin 500 rupiah, aku pun segera kuambil.

Dengan perut yang keroncongan, maka  pisang mulai kukuas dengan nasi ketan dengan lahapan hanya dua kali telan. Angin pagi pun mulai menampar wajahku yang mengelus-ngelus  yang tampak membusung kenyang. Sejak itu aku terus mengitari sawah, memburu peuneuphon. Ini perjalan yang  sangat mengenyangkan. “la la la.. la la la,” aku belajar nyanyi dan goyang pinggul seperti Yah Anda yang bergoyang menaruh bungkusan peuneuphon di tengah sawahnya, pagi tadi.