Tampilkan postingan dengan label Karya-Herman RN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya-Herman RN. Tampilkan semua postingan

Kek, Ini Kitab Bertulis Namaku

MASIH melekat erat dalam ingat tentang seraut wajah tua pucat lagi keriput-kerat hingga jelas terlihat bentuk urat-urat yang menggurat paras nyaris seabad itu belasan tahun lewat. Kendati ia telah dipanggil Sang Hujarat, Tuhan penguasa jagat, masih tetap kuingat senyum yang mengambang ikhlas tapi berat tatkala ia, kakekku, sempat menyusun abjat, menyebut-menyebut namaku, menjelang ia mengakhiri hayat.
  
Sungguh, itu cobaan terberat bagi hidupku, karena tak sempat melihat wajahnya yang sendu manakala Izrail mengajaknya berlalu. Sedangkan pesan yang terlukis erat di relung kalbu jadi pedoman hidupku bahwa aku, cucunya, harus sekolah hingga menjadi guru (waktu itu, kakek tak menjelaskan apakah guru mengaji seperti dirinya atau guru sekolah seperti adik ibu, atau guru silat seperti tetanggaku, atau guru yang lainnya).
Ia berkata serupa itu karena aku sempat berujar akan henti menuntut ilmu, sebab tak diizinkan masuk SMK agar lekas mendapatkan kerja (pikirku saat itu, setamat SMK langsung dapat kerja).
  
“Sekolahlah di SMA dulu, SMK tak ada di kampung kita. Kamu harus ke ibukota provinsi kalau mau masuk SMK. Maka sekolah saja di SMA yang ada di kampung kita,” kata kakek.
  
“Ya, Kek. Izinkan aku merantau. Aku akan sekolah ke ibukota provinsi. Di sana ada SMK,” sahutku.
  
Alasan kakek tak memberi restu sekolah ke kota karena ia tak dapat melihatku makan siang selepas pulang sekolah. Sedangkan selama ini, ia selalu menunda tidur siangnya sembari menonton telivisi, menanti aku, cucunya, pulang dari sekolah lanjutan pertama.

“Boleh kamu sekolah ke kota, tapi saat makan siang, kamu harus pulang ke rumah. Kamu harus makan di rumah,” tegasnya.
  
Adu argumen dengan kakek sama saja menegakkan benang yang basah. Akbarul kisah, aku melanjutkan sekolah ke SMA. Ujian kenaikan kelas dua-lah masa-masa aku harus banyak melambungkan ingat pada setiap acap ucap kakek. “Setelah ini, kamu harus sekolah hingga ke fakultas. Kakek sudah mengizinkanmu meninggalkan kampung kalau kamu sudah tamat SMA. Kakek juga merasakan sepertinya kampung kita ini sudah panas sekali,” begitu ujarnya.
  
Berturut-turut hari kata-kata itu diulang-ulangnya, terutama sekali ketika aku makan siang sepulang sekolah, terutama sekali tentang kampung kami yang mulai dirasakan panas menyengat hingga ke hati.

Suatu kali aku benar-benar dibuat takut oleh kabar yang datang ke sekolah padahal saat itu kelasku baru memulai satu ujian mata pelajaran tersusah. “Kakek jatuh dari kursinya, saat ini di rumah sakit,” begitu kabar tebersit.
  
Sebelum malaikat benar-benar membawanya, kakek kembali berbisik, “Jangan berhenti sekolah. Lanjutkan sampai ke fakultas. Ambillah satu petak sawah yang di belakang rumah. Jual untuk biaya sekolahmu.”
  
Kali ini kupikir bukan nasihat, tapi amanat. Sedang aku mengingat-ingat antara kejelasan nasihat atau amanat, mataku kian rasa berat. Terkatup sesaat, lalu aku terlelap.

Apa boleh buat, selepas azan Asar, aku terbangun oleh suara tangis dan jerit yang menyengat. Di sudut barat rumah kami, wajah kakek tak lagi meringis. Kini sekujur tubuhnya sudah ditutupi kain panjang berlapis. Di sekelilingnya, orang-orang menangis. Orang-orang meringis.
  
Belasan tahun lalu itu bukanlah sekarang. Belasan tahun lalu itu adalah kenangan, sekarang adalah harapan, sedangkan di hadapan adalah impian. Harap berharap pada segala sempat dan ucap, kini telah kudapat dua buah kitab. Keduanya bertuliskan namaku pada halaman depan. Satu kitab tipis yang kudapat tiga tahun lalu tatkala menamatkan strata satu. Satu kitab lagi selesai baru saja. Kedua kitab bersampul biru dengan pita kuning di tengahnya itu adalah persembahanku kepada kakek, si tua yang terus mengirimkan doa padaku, yang kian memberiku harapan, yang nian memberiku impian.
  
Ah, tiba-tiba saja aku jadi ingat kakek marah pada paman, karena paman mengajakku ke sawah. Kakiku yang berdarah karena gigitan lintah, paman yang kena sumpah serapah. Masih melekat erat di benakku, ungkapan kakek pada paman yang menyebutkan kalau nasibku tak boleh henti di gagang cangkul. Aku tahu, saat itu kakek sedang berdoa, bukan sekadar memberikan pernyataan. Dan aku merasakan doa kakek hingga sekarang.
  
Kek, Idul Fitri tahun ini aku pulang kampung. Hendak sangat kubersihkan pusaramu dengan tanganku sendiri, sembari memperlihatkan kitab kedua ini. Lalu kuletakkan kitab ini sesaat di batu bagian kepalamu, sambil kukatakan, “Kek, cucumu sudah selesai sekolah di fakultas. Ini kitab bertuliskan namaku yang kupersembahkan untukmu. Seperti katamu, aku mulai menikmati menjadi seorang guru. Aku bukan jadi tentara.”
  
Kuletakkan kitab itu di kepala pusara kakek. Orang-orang menyebut kitab tersebut dengan tesis. Itulah kitab bertuliskan namaku, janji tertunai pada dia, si tua yang selalu memanjaiku.

Don’t Leave Me!

DIA tersudut, mendekap tangan ke dada. Matanya menatapku sesaat, lalu menunduk. Aku masih berdiri di mulut pintu sambil terus menatapnya. Hatimu keras seperti batu, tapi itulah yang membuat aku tambah sayang padamu. Bathinku.

“Jadi, sunguh kau tak akan memberikan HP-ku?” kataku seraya mendekati wajahnya.

“Tak akan!”

“Kembalikan HP-ku atau kucium kau.”

“Coba kalau berani!”

Gadis itu menatapku tajam seperti singa hendak menerkam. Aku mundur selangkah. Dia memegang pergelangan tangan kanannya. Keningnya berkerut, matanya memicing menahan sakit. Tangan itu tadi kupicit karena hendak merebut HP-ku.
“Kau cowok yang kasar. Sakit tahu?!” ujarnya seraya menyentakkan pergelangan tangan kanannya.

“Makanya, kembalikan HP-ku?”

“Tidak mau!”

“Ada SMS yang tak seharusnya kau tahu di situ.”

“SMS apa?”

“SMS dengan seorang cewek. Kata-katanya sangat mesra.”

Gadis diam. Dia tidak lagi memandangku. Di tangannya tak ada lagi HP yang kucari-cari. Aku tahu, dia pasti sudah menyimpan dalam saku celanya.

“Ok. Aku kalah. Silakan baca saja SMS itu.”

Kudekati komputerku yang masih medendangkan ‘Yang terbaik untukmu’ milik Ungu. Suara Pasha begitu merdu, batinku.

Tiga belas menit kemudian aku kembali membuka suara. “Sudah kau baca?”

“Ini HP-mu,” katanya sambil meletakkannya di hadapanku.

“Sudah kau baca SMS-nya?” tanyaku lagi.

“Tidak semua. Maaf, aku telah baca SMS-mu.”

“Apa tanggapanmu sekarang?”

Gadis hanya diam. Direbutnya mouse dari tanganku. Dia memilih lagu lain di layar komputer. Sekarang terdengar suara vokalis Ungu melantunkan Seperti yang Dulu. Suaranya lembut mendayu di antara napasku yang masih terengah karena kelelahan main kejar-kejaran dengan Gadis, sebelumnya.

 “Bagaimana tanggapanmu sekarang?” tanyaku sekali lagi.

 “No komen.”

“Kau marah?”

 “No komen.”

 “Gadis. Apakah kau marah padaku?” suaraku mulai meninggi.

“No komen!”

“Gadis…”

“Aku tak marah. Maaf telah membaca SMS-mu.”

Sekarang giliranku yang diam. Mengapa dia tak marah? Mengapa dia tak cemburu? Apakah dia tidak mencintaiku (lagi)? Berarti aku salah selama ini karena telah mencintainya, orang yang sama sekali tidak mencintaiku.

Gadis meraih tas mungilnya. “Aku pulang ya. Maaf sudah membaca SMS-mu. Sebenarnya aku tak berhak merebut HP-mu. Aku bukan siapa-siapamu. Maaf ya?”

Gadis menghidupkan sepeda motornya. Dia berlalu dari halaman rumah kontrakanku tanpa menoleh sejenak pun, padahal aku sangat menginginkan dia menoleh saat itu, walaupun sesaat.

Suara motornya terdengar seperti guntur di langit. Kurasakan kepergiannya serupa kilat menyambar. Dia menghilang meninggalkan asap kenalpot di mukaku.

Aku masih berdiri di depan pintu, menatap ke arah hilangnya Gadis di persimpangan. Kukepal jemari tanganku seperti meregam puntung api. Di dadaku, degup jantung melebihi kecepatan orang yang berlari. Perlahan pandanganku samar-samar. Kepalaku seperti ditusuk jarum.

Remang-remang kudengar suara Ungu di komputerku yang masih menyala, lagu yang dipilih Gadis setelah merebut mouse dari tanganku tadi.

Tiada guna kau kembali, mengisi ruang hati ini/ Semuanya telah berlalu, bersama lukaku/  Semuanya telah berakhir, antara hatiku dan hatimu/  Takkan ada cinta. Seperti yang dulu/ Tiada guna kau berjanji untuk setia menemani/ Hatiku yang telah terluka karena dusta…mu//.

Hatiku semakin renyuh tatkala sampai pada bait /Semuanya telah berakhir, antara hatiku dan hatimu/ Takkan ada cinta, seperti yang dulu/ Semuanya telah berakhir, antara diriku dan dirimu/ Tak kan ada rindu seperti yang dulu.//

“Belum berakhir andai kau mengerti maksudku melarangmu membaca SMS itu. Belum berakhir andai kau memahami hatiku. Aku sengaja menyimpan SMS itu untukmu. Yang kuharapkan sebenarnya setelah kau baca SMS itu adalah kemarahanmu padaku, kecemburuanmu, bukan kepergianmu. Don’t leave me!” batinku.

Pemuda Dala-é

SUNGGUH mereka pemuda yang beruntung. Karena punya suara sangat merdu menghantam belenggu si nyamuk serdadu. Suaranya mendayu mengalahkan gaung jangkrik yang terkadang pilu. Semula aku heran, apa yang ditukikkan mereka dengan alat pengeras suara pula, di menasah pula, dan beramai-ramai pula.

Baru kumengerti, yang mereka lafalkan itu zikir meski tak menyebutkannya. Mereka menggoyangkan kepalanya sekali ke kiri dan sekali kekanan, kadang diikuti hentak dada dan perutnya. Mereka dan orang-orang kampung itu menyebut dala-é.
Aku menghampiri mereka sambil menghitung jumlahnya sebelas. Kitab bertulis arab di depan begitu lancer dibaca dalam ritme cepat bahkan lebih cepat daripada irama murattal,, serentak dan jelas maqharijul hurufnya, mengalun-alun pula. Disebut irama nasyid seperti di TV atau kaset, ini bukan. Atau irama gambus, juga tidak. Aku tak tahu darimana mereka mendapatkan irama semacam ini. Sungguh, ini keajaiban zikir.

“Beginilah salah satu piasan meulôd di sini, di kampung kami,” ujar seorang dari mereka ketika kuhampiri. Tampak dari sara duduknya yang melingkar, goyang kepalanya, sungguh terlihat mereka sangat menikmatinya.

Para pemuda Gampông Lhoknga itu setiap maulod, selalu mengisi dala-é dan piasan. Yang membuatku terpana, suara mereka yang menderu yang membuat setiap orang mendengar akan larut merasakan getarnya.

“Ah, seperi mantra saja,” lirihku.
“Apa? Kau bilang ayat Tuhan sebagai mantra?!” seorang dari mereka menghardikku.
Aku diam. Aku tahu yang bicara itu adalah pemimpin mereka. Kemudian aku di suguhkan sebuah kitab mungil yang mereka baca tersebut.

“Coba kau lihat, apakah ini mantra?”

Aku mengamati tulisan-tulisan arab itu. Ada yang dikotak-kotakkan. Ada yang digarisbawahi, ada juga yang ditulis diagonal di sudut-sudut lembar kertasnya. Semua dalam bahasa arab. “Ini kitab Barzanzi,” katanya.

Aku mencoba mengeja. Jelas aku bisa mengerti tulisan itu, tak ubahnya seperti yang ada dalam Alquran. Aku bisa membacanya sebab aku juga pernah diajarkan kakek mengaji sewaktu kecil dulu. Belum habis kubaca, sudah kukembalikan kitab tersebut kepada pemimpin mereka seraya mengakui jika itu bukan mantra, tapi ayat Allah.

“Lantas mengapa kalian mebacanya seperti itu? Terlalu cepat dan terkesan menghardik Tuhan?” tanyaku kemudian.

“Inilah dala-é. Seperti di daerah lain menyebutnya salawat. Kami juga sedang bersalawat, salawat dala-é. Semua yang ada dalam kitab ini adalah firman. Jika pun ada yang kami dendangkan dalam bahasa Aceh, itu semuanya nasihat. Bedanya, kami berzikir. Ini piasan meulôd dan dala-é. Ah, anggun dan nikmat!

Pesan yang Tak Sempat Terkirimkan

SUNGGUH sialan! Berbilang bulan berganti tahun hingga hitungan genap pada angka delapan, penantian hanya jadi sebuah kepura-puraan. Kali ini menimpa Buyung, seorang lajang dari Kampung Lamkutang yang memetik kecuraman dari Upik, dara yang tak pantas disebut jalang, yang berasal dari kampung sebelah kemukiman.

Selepas kepergian Upik ke perantauan demi cita-cita dan ilmu pengetahuan, Buyung bujang mencoba setia pada kebujangannya hingga masa sampai keharusan melepas lajang, ia tetap masih menjadi bujang. Tatkala kini usia Buyung sudah sangat matang untuk tidak lagi setia pada status lajang, bergudang cara dan aral melintang ia lewati demi mencari jalan agar dapat bertemu pandang dengan si Upik yang dikiranya juga masih lajang.
Penantian yang lewat kepalang! Tatkala Buyung menghempas hasrat pada gundah yang lama ia sekap hingga suatu ketika diucapkan pada Upik melalui surat yang tak panjang agar tidak berbelit-belit seperti orang lari dari utang.

Sayangnya, kenyataan di luar dari impian. “Lupakanlah aku,” sahut Upik yang juga tak mau berbelit dan tak mau berpanjang dalam surat balasan. Pada malam lain, antara Upik dan Buyung yang sudah saling berbagi user untuk chating berkesempatan saling tegur sapa yang diawali dengan saling mengucap salam. Selepas ditanyakan Buyung tentang penantian, Upik masih berkesimpulan pada suratnya sebulan silam, “Lupakan aku!”

“Semudah itukah?” balas Buyung, yang kemudian bertanya kembali atas alasan Upik terhadap jawabannya. Sayang, Upik tidak memberikan alasan seperti harapan Buyung. Ia hanya berujar, “Ada hal yang lebih penting yang harus kita lakukan sekarang.”

Buyung terhenyak. Dalam benak, ia coba mengingat-ingat sangat apa yang telah dijalaninya selama sekurun. Apakah penantiannya selama ini bukan hal penting? Apakah kejujurannya selama ini bukan hal penting? Apakah kesetiannya selama ini bukan hal penting? Apakah..apakah.. bergundal pertanyaan di kepala Buyung.

“Bagiku kau juga bagian yang terpenting, melebihi yang penting?” hampir saja Buyug berucap serupa itu. Ia cepat-cepat kuasai emosi agar tak lepas silap pada ucap yang belum tentu memiliki arti.

“Lupakanlah aku, lupakanlah semua tentang kita!” Ucapan Upik tersebut seperti gelegar petir di telinga Buyung. Ia serupa baru kena samun. Jauh terhenyak dalam lamun, pada masa-masa lalu berbilang tahun. “Maksudmu, Upik,” kata Buyung berpura tak paham, hingga kembali Upik harus menegaskan, “Lupakan saja tentang kita yang pernah besama. Kalau Tuhan berkehendak, kita akan bersua. Kini aku jauh di rantau orang demi cita-cita.”

Ada nada pemaksaan ditangkap Buyung dari ucap Upik barusan, paksaan agar Buyung segera dapat melupakan pada setiap kenangan dan keriangan masa silam, saat-saat mereka masih tanggung dikatakan dara dan bujang.

“Kau sungguh-sungguh, Upik?” tanya Buyung, berusaha menguatkan hatinya yang kian tercabik. “Kita hanya dapat berdoa, Buyung. Jangan terlalu larut dalam masalah tak penting ini. Ingat, tugas kita hanya berdoa, Tuhan yang menentukan.”

“Aku selalu berdoa, Upik. Tapi, apa guna doaku jika berlainan dengan doamu? Apakah Tuhan akan mengabulkan semua doa hamba-Nya? Jika demikian, bagaimana dengan doa kita yang bertentangan? Aku mendoakan dirimu agar ikhlas menerimaku, sedangkan kau berdoa agar aku dapat melupakanmu. Doa mana yang harus dikabulkan Tuhan?”

Upik diam. Buyung juga. Malam merangkak perlahan. “Jika tugas kita adalah berdoa, apakah tugas Tuhan mengabulkan setiap doa hamba-Nya? Bagaimana dengan doa kita, Upik?” lanjut Buyung . Lama setelah itu mereka saling diam. Buyung memperhatikan layar monitor komputernya.

Selepas tiga puluh menit kemudian, ia tulis sebuah pesan, “Baiklah, aku akan lakukan seperti yang kauharapkan. Mungkin setelah kaubaca pesan ini, kau pun cukup berikan jawaban dengan diam. Sungguh, selama ini aku tak pernah mengerti arti sebuah penantian dan makna sebuah harapan. Maka setelah ini jelaskan saja dengan diam.”

Buyung berhenti sejenak menulis pesannya. Ia tarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan tulisan. “Wahai kau yang sejak dulu tak pernah kusapa kekasih tetapi kau sangat tahu bahwa aku amat kasih, terlalu lama kau lepaskan aku serupa layang-layang, sedangkan benangnya ada pada genggamanmu. Inilah kelemahanku selama ini yang kututupi dan sempat kusadari.

Sekali lagi maka, setelah ini jelaskanlah dengan diam, karena aku akan berusaha melupakanmu walau itu menyalahi janjiku dengan Tuhan yang sempat kuucap suatu waktu sewindu lalu. Aku akan belajar seperti inginmu, yakni melupakanmu dan menghentikan doaku, tetapi aku akan terus mengamini doamu. Akhirukalam kulisankan syukran, jazakumullahu khairan...” Buyung menutup pesannya dengan tanpa ucapan wassalam. Belum sempat pesan itu dikirimkan, listrik di rumahnya tiba-tiba padam setelah diselidik PLN sengaja memutus arus tetangga Buyung sudah menunggak tiga bulan.