Tampilkan postingan dengan label Karya-Alimuddin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya-Alimuddin. Tampilkan semua postingan

Tanah Ibuku

SUDAH kukasih tanah untukmu. Tanahku saying juga kusayang, nyatanya ingin kau ambil sisanya lagi, tanah ibuku. Tanah permata, kasih; tanah yang mengganggu jalan cinta dan mimpiku. Menolak, aku memukul-mukul keinginan itu. “Leburlah bersama tubuhku. Tautkan jiwamu pada nyawaku. Jalan mimpiku akan luruh bahagia bila itu Lebur bersama tubuhmu,” begitu rayumu.

Jangan ambil tanah ibuku…Tidak kau ambil. Kau telah rayu janji, leburku ke dalam tubuhmu, tak akan jadikanmu suka tanah ibuku. Lagi. Ucapmu,”kita akan mendarat di tanah seberang. Tanah itu tanah bahagia. Untukku dan mu,” Mengapa gilai tanah ibuku bila miliki tanah seberang bahagia? Tapi ketika mataku tertidur, ketika sebahagian jasadku tengah lelah temani kehidupanmu, mengapa tak ajaki aku menuju ke tanah ibuku? Tanganmu mengayuh sendiri lautan panjang, yang kau namai lautan bahagia itu.
Menuju tanah ibuku Lalu mengapa paksa kelahiran darah di tanah ibu? Kau tanam tengkorak di dalam perut tanah ibu. Kau penjarakan kupu-kupu yang miliki cita-cita tinggi. Kasih, sakit. Letih,sayang. Nyawa ini pucat seolah dilempari rotan kematian. Sekali waktu tengkorak yang kau tanam, kupu-kupu, burung-burung, semua mereka marahi aku.

Mengapa biarkan biadab lahirkah darah-darah haram? Potong tangan lancang dengan gergaji tua! Sumpal mulut berbisa si biadab dengan serbuk-serbuk kayu mematikan! Tolong beri bebas yang merdeka! Mengapa tak jua pulang ke tanah ibumu?Meski aku saksikan dalam ruangan mimpi, kuselalu kagumi mimpi. Mimpi, musafir kenyataan. Sekali-sekali waktu, ia lena bermain di rimba hutan gagah.

“Hentikan buat biadab di tanah ibuku,” ketika matahari telah ada, aku jadi angin yang amuki pohon-pohon hingga mengapung-ngapung di langit negeri. Aku tak peduli-hirau, dengan satu hati kukatakan ingin, hantarkan aku ke tanah ibuku. kalimatmu puntung. Bintang-gemintang ribuan yang ingin merdeka dari penjara danau matamu. “Jangan cinta, jangan kasih, cintamu adalah hidupku. Jika kau pergi,..”

“Di sini aku pahat janji, kuhentikan kerja segala biadab. Tanah ibumu tak lagi kuusik. Sesungguhnya kasih cinta, kaulah terindah,” danau matamu menangis seperti hujan yang tengah banjir. Kukagumi air matamu yang banjir itu. Tapi aku tak jatuh cinta dengan pahat janjimu. Janjimu mengada-ngada angin. Lantas mengapa kau ciptakan kekeh? Mengapa kau serigala yang kirimkan kelicikan? “Tanah ibumu tak lagi suci. Sudah kulahirkan darah. Telah kutanam tengkorak di dalam perut. Sudah kukubur kaki-kaki bayi. Kupu-kupu dan burung-burung…”

Beginilah menjadi angin kuat. Tak apa. Meski nyawaku dirajam-rajam rotan kematian. Aku akan sembahyang suci untuk kembalikan suci tanah ibuku. Sekarang, mari hantar aku… “Kumohon jangan… Jangan pergi… kaulah terindah kasih,” Tubuhmu rubuh. Jika begini, harus aku sendiri yang mengayuh sampan. Pada masanya, Tuhan Kuasa menaruh pesan pada gunung tampan, aku dan kau untuk pasangan selamanya. Angin, hujan serta gunung tampan akan ajakmu ke tanah ibuku. Di dalam laut bahagia, aku telah menjadi sepotong titik angin. Kau tak menarik pergiku.

Orang-Orang Yang Datang

SEKALI waktu, orang-orang itu datang ke rumah-rumah kami. Mereka membawa senyum-senyum sambil ucap salam dengan mulut sopan. Satu dari mereka letakkan tangannya di pundakku,”adalah satu karunia bisa hidup di sini,” Kami duduk tak bergerak. Tak ada seorangpun yang pernah berkata seperti itu pada kami sebelumnya. Melalui bahu, aku lihat bapak yang beri senyum paling hangat yang pernah saya saksikan. Lalu orang-orang yang datang itu huni sebuah bilik yang kami beri. Terdengar bunyi dari bilik itu. Bam-bim-bum, pam-pum, tam-tim-tum. Pikir kami itu adalah suara khas mereka.

Maka biarkan bagi kami adalah jalan baik. Sekali hari, mereka keluar dari bilik dengan peralatan aneh: parang-parang tajam, bedil-bedil yang berbau kemenyan. Kepadaku, mereka kasih senyum aneh. Aku rasai itu sebagai senyum sunyi. Mereka pergi entah kemana. Tidak pulang hingga tujuh hari lamanya. Selama pergi itu, bunyi ganjil kami dengar. Bunyi itu berwarna asing. Dam-dum, auww, tolong. Mereka pulang ke rumah kami, mereka tidak ucap salam. Masuk ke bilik mereka dengan tatapan singa hutan. Bam-bim-bum, pam-pum, tam-tim-tum.
Pada satu malam, api di mana-mana. Api itu membakar kayu-kayu rumah kami sehingga remuklah tempat hunian itu. Orang-orang itu terbahak-bahak seperti raja penguasa negeri kejahatan. Selamatkan dirilah kami ke hutan tempat harimau beranak. Sebahagian kami menangis sesali jahat orang itu. Sebahagian duduk merapat, berbicara dengan bahasa serius. Aku menangis dan memeluk pohon hutan. Kemudian bunyi asing terdengar di tempat harimau beranak itu, pam-pem-pom, dhuam-dhuem. Kami tidak makan nasi. Kami makan bunyi itu setiap hari.

Pagi-pagi sekali, mereka turun dari tempat harimau beranak itu dengan memikul runcing-runcing tajam dan beberapa bedil. Sebahagian kami melanjutkan perjalanan tanpa tujuan. Dalam perjalanan bunyi aneh, bunyi asing seperti tengah bertempur. Beberapa orang di antara kami mengucap agar perjalanan kami dihentikan sudah. Pohon-pohon hutan kami singkirkan dan bangun tempat hunian seadanya. Kami tidur dengan keberanian takut sebab bunyi-bunyi bertempur seperti akan mematikan kehidupan kami.

Pagi-pagi sekali, mereka-mereka itu terengah-engah tiba-tiba di tempat kami. Mereka-mereka itu adalah orang-orang kami yang suatu pagi turun dari tempat harimau beranak ini dengan memikul runcing-runcing tajam dan beberapa bedil. Kata mereka, terengah-engah takut sebab orang-orang itu mengejar mereka dan membawa maut. Pada petang di mana kami tidak siap untuk mati, orang-orang itu datang ke tempat kami dengan langkah-langkah sombong. Sambil terbahak-bahak membunyikan suara-suara aneh. Aku menangis ketakutan, aku hanya ingin seperti dulu. Orang-orang itu tidak datang. Tidak ada bunyi-bunyi asing di sini. Kemudian orang-orang itu membagikan maut satu-persatu kepada kami.