Tampilkan postingan dengan label Karya - Ramajani Sinaga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya - Ramajani Sinaga. Tampilkan semua postingan

Menunggu Cut Bang

Aku terbangun dari bunga tidurku ketika mencium harum masakan dari ruang dapur. Aku melangkah menuju dapur, memastikan apa yang telah terjadi. Alangkah terkejutnya aku ketika Cut Bang telah berada di meja makan. Dia melemparkan senyuman. Tempe goreng, ikan asin, dan nasi putih telah terhampar di meja makan. Cut Bang menyambut hariku dengan ceria.

“Siapa yang masak, Cut Bang?” Aku bertanya penasaran padanya. “Aku,” jawab Cut Bang dengan senyuman. Aku berpikir, coba meraba apakah ini kenyataan atau hanya mimpi. Biasanya Cut Bang bangun pukul 8 pagi. Itu sebab Cut Bang sering ditinggal oleh nelayan-nelayan lain yang pergi melaut. Tapi hari ini, Cut Bang membawakan suasana berbeda dari sebelumnya.

Laila dan Air Mata

Laila
Laila, putri pertama Syarifah yang lahir karena air mata. Tidak ada yang aneh  pada Laila.  Secara fisik ia persis seperti anak-anak yang lain. Bedanya, Laila sudah ditinggal oleh emaknya, Syarifah,  sejak  ia masih belajar merangkak.   Laila pun harus hidup seadanya bersama sang nenek dalam sebuah gubuk reot.

“Mak kemana, nek?”

“Sabarlah. Emakmu akan pulang.”

Sungguh, saban hari Laila selalu bertanya tentang emaknya yang telah pergi merantau sejak lama menjadi TKI di luar negeri. Perasaan ingin selalu bersama emak ingin selalu dirasakan. Ia ingin seperti anak-anak lain,  hidup berdampingan dengan orang tua. Emaknya telah lama meninggalkannya menjadi TKI di sebuah negara raksasa.