Menunggu Cut Bang
Aku terbangun dari bunga tidurku ketika mencium harum masakan dari ruang dapur. Aku melangkah menuju dapur, memastikan apa yang telah terjadi. Alangkah terkejutnya aku ketika Cut Bang telah berada di meja makan. Dia melemparkan senyuman. Tempe goreng, ikan asin, dan nasi putih telah terhampar di meja makan. Cut Bang menyambut hariku dengan ceria.
“Siapa yang masak, Cut Bang?” Aku bertanya penasaran padanya. “Aku,” jawab Cut Bang dengan senyuman. Aku berpikir, coba meraba apakah ini kenyataan atau hanya mimpi. Biasanya Cut Bang bangun pukul 8 pagi. Itu sebab Cut Bang sering ditinggal oleh nelayan-nelayan lain yang pergi melaut. Tapi hari ini, Cut Bang membawakan suasana berbeda dari sebelumnya.